Selasa Pagi, Rupiah Lanjut Melemah Usai Dikritik DPR

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – Rupiah belum mampu beranjak dari area merah pada pembukaan perdagangan Selasa (28/1) setelah DPR RI mengkritisi penguatan dalam beberapa hari terakhir. Menurut catatan Index, mata uang Garuda mengawali dengan melemah 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.621 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 33 poin atau 0,25% di posisi Rp13.615 per AS pada Senin (27/1) kemarin.

Penguatan yang dialami mata uang dalam beberapa hari belakangan mendapatkan kritikan dari DPR RI. Pasalnya, menurut parlemen, meskipun posisi rupiah yang berada pada kisaran Rp13.600 per dolar AS saat ini ‘friendly’ untuk para importir, namun ada begitu banyak exchange rate lost karena selling yang kemungkinan tidak terkontrol.

rupiah menguat, tetapi saya tidak melihat korelasi hubungan sebab-akibat. Di kuartal III 2019 kemarin lumayan saja, baik dari direct investment portfolio,” tutur anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, dilansir CNBC Indonesia. “Saya tidak melihat korelasi dan sebab-akibatnya. Bagaimana kita menghubungkan data-data ini. Apa yang menyebabkan rupiah kita meningkat? Bagaimana operasi moneter yang efektif dari Bank Indonesia?

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan bahwa pihaknya tetap akan menjaga nilai tukar rupiah sesuai fundamental. Apabila penguatan tersebut bergerak di luar fundamental, Perry menegaskan BI siap untuk melakukan intervensi. Menurutnya, utama pendorong kurs rupiah adalah inflasi yang rendah dan aliran modal asing yang masih besar.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, seperti dikutip Bisnis, menilai bahwa ada beberapa hal yang masih perlu diwaspadai mengingat penguatan rupiah belum ditopang kinerja ekspor. Hal ini dibuktikan dengan nilai ekspor yang cenderung melambat. Penguatan yang sifatnya temporer bisa kembali melemah apabila situasi berubah.

“Penguatan rupiah dapat menekan sisi ekspor lantaran domestik di pasar internasional lebih mahal. Jika demikian, penguatan rupiah akan menurunkan daya saing negara,” kata Bhima. “Namun, devisa pariwisata justru berisiko turun akibat wabah corona virus. Pelaku pasar juga masih menunggu realisasi dari trade deal pertama AS-China.”

Loading...