Kembali Hajar Dolar, Rupiah Dibuka Menguat 0,49%

Rupiah - www.businesstimes.com.sgRupiah - www.businesstimes.com.sg

JAKARTA – Tenaga rupiah ternyata masih cukup untuk kembali ‘menghajar’ pada Selasa (14/7) pagi. Menurut data Index, Garuda membuka transaksi dengan menguat 70 poin atau 0,49% ke level Rp14.355 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 10 poin atau 0,07% di posisi Rp14.425 per AS pada Senin (13/7) kemarin.

Menurut Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir Bisnis, penguatan rupiah didukung oleh meningkatnya minat investasi aset berisiko seiring dengan adanya perkembangan vaksin COVID-19. Seperti diketahui, belum lama ini, Gilead Science, Inc. mengatakan bahwa data tambahan dari penelitian tahap akhir mereka menunjukkan antivirus Remdesivir dapat mengurangi risiko kematian pasien terjangkit corona cukup parah hingga 62% dibandingkan standar.

“Ada harapan vaksin potensial untuk coronavirus baru akan ditemukan dan merespon positif sehingga kekhawatiran tentang lonjakan infeksi di seluruh dunia bisa sedikit berkurang,” tutur Ibrahim. “Namun, penguatan rupiah kemarin menjadi terbatas karena pelaku merespon negatif tambahan kasus COVID-19 di dalam negeri dalam beberapa minggu ini.”

Ibrahim menambahkan, jika situasi di dalam negeri tidak segera kondusif, maka masalah pandemi virus corona ini bisa menjalar ke sektor lainnya, seperti dan keuangan. Karena itu, dalam perdagangan hari ini, ia memprediksi rupiah masih akan bergejolak dan akan bergulir di kisaran Rp14.400 hingga Rp14.440 per dolar AS.

Sementara itu, analis HFX International Berjangka, Ady Phangestu, seperti dikutip Kontan, menuturkan bahwa penguatan rupiah pada transaksi kemarin sejalan dengan dolar AS yang diperdagangkan lebih rendah dibanding mata uang Asia. Ady pun menilai peluang penguatan rupiah masih cukup terbuka pada perdagangan Selasa ini.

“Secara keseluruhan, data ekonomi relatif lebih baik dari ekspektasi yang pada akhirnya dapat membuka kepercayaan investor,” ungkap Ady. “Namun, pada saat yang sama, meningkatnya kasus virus corona yang dapat meningkatkan kemungkinan bagi negara mengambil tindakan lockdown, bisa meningkatkan dolar AS seiring investor yang coba menghindari risiko.”

Loading...