Segera Diproduksi Massal, Berapa Harga Jual Pesawat Nurtanio N219?

Harga Jual Pesawat Nurtanio N219

dirgantara di Indonesia tampaknya mulai memasuki babak baru. Setelah sempat meredup pada tahun 90-an, pada 2011 Lembaga dan Antariksa (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (DI) bekerjasama membangun sebuah bernama N219. Namun beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan nama Nurtanio sebagai nama dari N219. Saat ini N219 Nurtanio sendiri ditargetkan mulai diproduksi massal tahun 2019 depan. Berapa kira-kira banderol pesawat N219?

Direktur PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan bahwa harga jual pesawat N219 berkisar USD 6 juta per unit atau sekitar Rp 81 miliar (kurs Rp 13.500/USD). “Kita di kisaran US$ 6 jutaan ya,” kata Arie di Jakarta bulan Agustus 2017 lalu, seperti dilansir Detik.

Pesawat N219 dapat dipakai untuk mengangkut sipil dengan 19 orang, militer, atau , evakuasi medis, hingga digunakan sebagai bantuan ketika bencana alam. Yang lebih menarik, pesawat Nurtanio N219 kabarnya murni dirancang oleh putra-putri Indonesia dan harganya juga lebih murah dari pesawat sejenis, yakni Twin Otter.

“Murni dikerjakan insinyur-insinyur Indonesia, tak ada seorang pun konsultan asing di dalamnya. Dengan teknik rancang bangun modern, semuanya komputerisasi untuk mencapai akurasi yang tinggi,” jelas Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin.

Pesawat Nurtanio N219 mempunyai maksimum hingga 210 knot dengan terendahnya 59 knot. Dengan spesifikasi tersebut, pesawat ini bisa terbang dengan cukup rendah dan masih dalam keadaan terkontrol. Hal ini penting, terutama ketika melintasi wilayah tebing dan pegunungan.

Pesawat yang dibuat di Bandung ini menggunakan 2 mesin Pratt & Whitney Aircraft of Canada Limited PT6A-42 yang masing-masing memiliki tenaga 850 SHP dan dibekali Hartzell 4-Blade Metal Propeller. Nurtanio N219 disebut-sebut sanggup mengangkut beban hingga 7.030 kilogram saat take off dan 6.940 kg ketika mendarat.

Saat ini PT DI sedang menanti Type Certificate yang kemungkinan akan diterbitkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan pada tahun 2018. Baru setelah itu pesawat N219 bisa diproduksi secara massal.

Share this post

PinIt
Loading...
scroll to top