RUU Pajak AS Kembali Diragukan, Rupiah Berakhir Naik Tipis

bundelrupiah-100-50-ribu

Keraguan yang timbul mengenai apakah RUU AS dapat lolos tepat waktu membuat laju melorot, sehingga bisa melenggang mulus di zona hijau sepanjang Selasa (7/11) ini. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI menutup hari ini dengan penguatan tipis sebesar 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.515 per AS.

Sebelumnya, rupiah berakhir melemah 26 poin atau 0,19% di posisi Rp13.524 per dolar AS pada penutupan dagang Senin (6/11) kemarin. Namun, pagi tadi mata uang Garuda mampu melakukan rebound dengan dibuka 29 poin atau 0,21% ke level Rp13.495 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.493 hingga Rp13.519 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS kembali mengalami koreksi ketika imbal hasil obligasi tergelincir akibat ketidakpastian mengenai apakah Partai Republik dapat meloloskan rancangan undang-undang pajak dengan tepat waktu. Pada pukul 10.35 WIB, mata uang Paman Sam turun tipis 0,025 poin atau 0,03% ke level 94,732, setelah sebelumnya ditutup melemah 0,19% di posisi 94,757.

Kinerja greenback yang sempat terangkat kembali merosot ketika acuan imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun turun menuju 2,30%, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam tujuh bulan di angka 2,47% pada Oktober kemarin. Keraguan mengenai apakah kubu Republik di Parlemen AS dapat meloloskan rencana pajak membantu menurunkan imbal hasil obligasi jangka panjang.

“Dolar AS kurang mendapatkan dukungan dari imbal hasil obligasi yang telah menurun akibat ketidakpastian mengenai rancangan undang-undang pajak serta perkiraan bahwa kenaikan pada inflasi akan lamban,” papar pakar strategi valas senior di IG Securities, Junichi Ishikawa. “Agar greenback mempertahankan kenaikan, memerlukan perkembangan yang cepat dari proses RUU pajak sebelum Hari Thanksgiving.”

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.504 per dolar AS, menguat 25 poin atau 0,18% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.529 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,32% dialami won Korea Selatan, disusul dolar Taiwan yang melonjak 0,18%.

Loading...