Rupiah ‘Terjun Bebas’ di Akhir Dagang Meski Dolar Negatif

Pelemahan yang dialami imbas kondisi geopolitik yang kembali memanas di Semenanjung Korea gagal dimanfaatkan oleh untuk bergerak menguat. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, NKRI harus memungkasi Selasa (26/9) ini dengan melorot 49 poin atau 0,37% menuju level Rp13.374 per AS.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (25/9) kemarin, rupiah ditutup di posisi Rp13.325 per dolar AS, atau melemah 13 poin. Kemudian, tren negatif mata uang Garuda masih berlanjut pagi tadi dengan dibuka terdepresiasi 17 poin atau 0,13% menuju level Rp13.342 per dolar AS. Lalu, sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.334 hingga Rp13.395 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya cenderung bergerak melemah pada hari ini seiring apresiasi yang dialami yen Jepang selaku aset safe haven setelah ketegangan di Semenanjung Korea kembali memanas. Mata uang Paman Sam pada pukul 10.36 WIB terpantau turun 0,063 poin atau 0,07% ke level 92,585 usai sebelumnya ditutup di posisi 92,648 pada perdagangan kemarin.

Pelemahan dolar AS terjadi ketika yen Jepang bergerak naik didorong komentar Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong Ho, yang mengatakan bahwa Presiden AS, Donald Trump, telah mendeklarasikan perang terhadap negaranya. Ri berujar bahwa Pyongyang memiliki hak untuk melakukan langkah penanggulangan, termasuk menembaki pesawat pembom milik AS meski tidak sedang mengudara di wilayah mereka.

“Dolar AS cenderung bergerak turun karena meningkatnya isu seputar Korea Utara,” jelas pakar strategi senior di Barclays, Shin Kadota, seperti diberitakan Reuters. “Namun, persoalan apakah Federal Reserve dapat menaikkan acuan mereka pada bulan Desember mendatang, seperti diprediksikan, masih akan menjadi penentu akhir.”

Namun, pelemahan yang dialami greenback ini gagal dimanfaatkan oleh rupiah untuk bergerak ke zona hijau karena pasar agaknya masih syok dengan keputusan Bank Indonesia yang memangkas suku acuan mereka di hari Jumat (22/9). Seperti diketahui, Bank Indonesia pada pertemuan tersebut memotong suku 7-day repo sebesar 25 basis poin menjadi 4,25%.

“Rupiah sudah melemah terhadap dolar AS di akhir pekan lalu usai pemangkasan suku bunga Bank Indonesia, dan ini berlanjut pada perdagangan awal pekan ini,” ucap Research Analyst ForexTime, Lukman Otunuga. “Spekulasi kenaikan suku bunga di bulan Desember juga menjadi penyokong penguatan dolar AS terhadap mata uang berkembang.”

Loading...