Rupiah Negatif di Akhir Pekan Jelang Rilis Data Nonfarm Payrolls AS

www.globalindonesianvoices.com

harus menutup akhir pekan (6/10) ini di zona merah setelah indeks AS terlihat ‘betah’ bergerak di level tertinggi menjelang rilis nonfarm payrolls Paman Sam. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, mata uang domestik mengakhiri dengan pelemahan sebesar 55 poin atau 0,41% menuju level Rp13.519 per AS.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Kamis (5/10) kemarin, rupiah mampu menguat 13 poin atau 0,10% dan berakhir di posisi Rp13.479 per dolar AS. Namun, pagi tadi, mata uang Garuda gagal mempertahankan tren positif dengan dibuka melemah 21 poin atau 0,16% ke level Rp13.485 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.469 hingga Rp13.521 per dolar AS.

Bisnis melaporkan, indeks dolar AS masih bergerak di rentang level tertinggi, didukung ekspektasi perkembangan reformasi Paman Sam serta penantian mengenai data pekerjaan AS yang bakal diumumkan Jumat waktu setempat. Mata uang greenback pagi tadi pukul 08.43 WIB hanya melemah tipis 0,052 poin atau 0,06% ke level 93,909 setelah sempat menyentuh posisi 94,004.

Gerak greenback disokong sikap anggota parlemen yang menyetujui revisi cetak biru fiskal 2018 untuk membantu meloloskan RUU pajak. Dukungan terhadap dolar AS bertambah usai data yang dirilis Kamis kemarin menunjukkan bahwa pesanan untuk barang modal inti di bulan Agustus 2017 lebih tinggi daripada yang dilaporkan sebelumnya.

“Ada langkah pertama ketika Kongres menyampaikan rincian , sehingga kita selangkah lebih dekat dengan reformasi pajak (di Paman Sam),” ulas kepala pasar United Overseas Bank (UOB), Heng Koon How, seperti dikutip Reuters. “Setelah bencana badai, sekarang pasar menunggu data nonfarm dengan ekspektasi sekarang sangat rendah.”

Pasar saat ini memang sedang menanti rilis data nonfarm payrolls AS untuk bulan September 2017. Data ketenagakerjaan tersebut diperkirakan akan menunjukkan perlambatan pertumbuhan pekerjaan, yang mencerminkan dampak dari Badai Harvey dan Irma. Survei Reuters menyebutkan, data kemungkinan akan menunjukkan peningkatan sebesar 90 ribu, turun dari angka 156 ribu di bulan sebelumnya.

Loading...