Rupiah Naik Tipis 1 Poin di Awal Perdagangan

Jakarta dibuka tipis 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp 13.360 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (16/8). Kemarin, Selasa (15/8), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 0,09 persen atau 12 poin ke posisi Rp 13.349 per AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.339 hingga Rp 13.355 per AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama dilaporkan menguat 0,47 persen menjadi 93,849 pada perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB berkat sejumlah yang positif.

Berdasarkan laporan dari Departemen Perdagangan pada Selasa (15/8), perkiraan awal untuk ritel dan jasa-jasa makanan AS pada bulan Juli berada di angka USD 478,9 miliar, naik 0,6 persen dari bulan sebelumnya, atau lebih tinggi dari perkiraan kenaikan sebesar 0,4 persen.

“Penjualan ritel yang lebih kuat menempatkan the Fed kembali ke jalur kenaikan () pada Desember. Probabilitasnya 38,1 persen setelah rilis (data ekonomi), dan kemungkinan akan meningkat lebih lanjut sepanjang hari,” ungkap Chris Low, Kepala Ekonom di FTN Financial, seperti dilansir Skalanews.

Sementara itu, Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memprediksi jika hari ini rupiah kemungkinan akan cenderung bergerak di zona merah. Menurut Reza, rupiah akan melemah terbatas karena minat terhadap aset-aset safe haven mulai berkurang. Di samping itu meredanya minat investor terhadap aset safe haven juga turut membuka peluang bagi dolar AS untuk rebound. “Sehingga dapat juga berpotensi menghadang peluang rupiah untuk kembali menguat,” papar Reza.

Lebih lanjut Reza menuturkan bahwa fenomena ini juga dipicu oleh anggapan bahwa ketegangan geopolitik antara negara Amerika Serikat dengan Korea Utara kini mulai mereda. Beberapa petinggi AS mengungkapkan upaya mereka untuk menempuh jalur damai. Demikian pula pimpinan Korut, Kim Jong Un yang membatalkan niatnya untuk melancarkan serangan rudal ke Guam.

Senada, Ekonom Bank Central Asia, David Sumual memperkirakan jika gerak rupiah masih akan tergantung oleh sentimen dolar AS. Di sisi lain dari faktor dalam negeri juga masih minim sentimen yang dapat menopang pergerakan rupiah.

Loading...