Neraca Dagang Defisit, Rupiah Tetap Berakhir Naik 0,24%

Rupiah menguatRupiah menguat pada transaksi Senin (17/2) sore - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Bergerak dalam rentang yang sempit, rupiah akhirnya tetap sanggup bertahan di area hijau pada Senin (17/2) sore ketika dalam negeri sepanjang Januari 2020 dilaporkan mengalami defisit. Menurut paparan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup menguat 33 poin atau 0,24% ke level Rp13.660 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp13.693 per dolar AS, menguat 14 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.707 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang mampu mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,21% menghampiri yuan offshore China.

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari 2020 mengalami defisit sebesar 864 juta dolar AS, karena nilai ekspor yang lebih kecil daripada . Selama bulan kemarin, ekspor Indonesia tercatat hanya 13,41 miliar dolar AS, sedangkan nilai mencapai angka 14,27 miliar dolar AS.

Defisit pada Januari 2020 terutama dikarenakan neraca dagang yang masih mengalami defisit hingga 1,18 miliar dolar AS. Sementara, neraca dagang non- mengalami surplus 317 juta dolar AS. Apabila dibandingkan dengan bulan Desember 2019, neraca dagang bulan lalu lebih dalam. Pada Desember, nilai defisitnya adalah 28,2 juta dolar AS.

kini sudah membuat berbagai kebijakan yang telah diimplementasikan untuk memperbaiki neraca dagang, di antaranya penerapan B30,” tutur Kepala BPS, Suhariyanto, dalam konferensi pers di kantornya. “Diharapkan, kebijakan ini dapat bergulir mulus di lapangan sehingga neraca perdagangan dapat membaik dan menjadi surplus.”

Dari global, euro harus bergerak lebih rendah pada hari Senin, karena kekhawatiran memuncak tentang melemahnya pertumbuhan di Eropa ketika pasar keuangan dan pembuat kebijakan resah tentang ancaman baru terhadap global dari coronavirus yang menyebar cepat di China. Mata uang tunggal itu bergerak datar di dekat level 1,08385 terhadap greenback, dan sejauh ini sudah turun 2,3% sejak awal bulan.

“Coronavirus semakin terlihat seperti masalah jangka panjang dan dengan demikian, setidaknya untuk pasar mata uang, itu akan memainkan biola kedua,” kata manajer mata uang di Societe Generale, Kyosuke Suzuki. “Sebaliknya, sentimen pada euro menjadi lebih jelas, dengan fundamental ekonomi yang lemah membantu mendorongnya ke bawah.”

Loading...