Akhiri Transaksi Januari 2020, Rupiah Menguat Tipis

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, rupiah akhirnya menutup bulan Januari 2020 di area hijau, ketika wabah masih mendominasi sentimen, mengakibatkan ketidakpastian di pasar . Menurut catatan Index, menutup transaksi Jumat (31/1) dengan menguat tipis 2 poin atau 0,1% ke level Rp13.655 per .

“Kami berupaya menstabilkan pasar keuangan di tengah kekhawatiran seputar penularan virus corona (coronavirus) yang memicu arus modal keluar alias outflow,” tutur Gubernur , Perry Warjiyo, dalam interview dengan Bloomberg TV. “Sejauh ini, apa yang kami rasakan, dan juga bank sentral lainnya tengah rasakan, adalah dampak dari virus corona ke dalam pasar keuangan. Kami melihat pembalikan arah, termasuk dari ekuitas dan obligasi.”

Sementara, dilansir CNBC, mata uang Asia sedikit rebound pada hari Jumat, karena kepercayaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggapan terhadap virus baru di yang menyebar dengan cepat meredam kekhawatiran atas lonjakan infeksi. Kamis (30/1) kemarin, WHO mengatakan bahwa wabah virus corona adalah keadaan darurat global, tetapi menentang pembatasan perjalanan dan mengatakan tindakan sejauh ini akan ‘membalikkan gelombang’ penyebarannya.

Meskipun ada peningkatan jumlah kematian dan kasus baru, nada meyakinkan dari WHO sudah cukup untuk saham yang sudah terpukul selama dua minggu serta sejumlah mata uang dan komoditas yang terpapar ke Negeri Panda. Korban tewas di Tiongkok kini telah mencapai 213 orang dan jumlah kasus sekarang menjadi 9.692 kasus. Virus juga telah menyebar ke 18 negara dan AS memperingatkan warganya agar tidak mengunjungi China.

sedang menunggu perincian tentang virus itu sendiri, dan untuk tanda-tanda perlambatan penyebarannya untuk menilai kemungkinan risikonya terhadap manusia dan ekonomi. Dengan tidak adanya informasi itu, banyak yang akhirnya menoleh ke wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2002-2003 untuk mendapatkan panduan.

“Kami pikir dampaknya akan sangat berat dan kemungkinan lebih besar dari wabah SARS,” kata ekonom BNP Paribas dalam sebuah catatan yang memperingatkan bahwa angka pertumbuhan year-on-year kuartal saat ini di China bisa berada di bawah 5%. “Kami tidak tahu persis bagaimana situasi akan berevolusi selama beberapa hari, minggu, dan bulan mendatang dan karenanya berapa lama kejutan itu akan terjadi.”

Loading...