Inflasi Terkendali, Rupiah Menguat Tipis di Senin Sore

Rupiah menguatRupiah menguat pada perdagangan Senin (2/9) sore - tempo.co

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada Senin (2/9) sore ketika Indonesia dilaporkan hanya mengalami tipis sepanjang bulan Agustus 2019 kemarin. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda terpantau menguat tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp14.194 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.190 per , menguat 47 poin atau 0,33% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.237 per . Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia mampu mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,11% menghampiri yen Jepang.

Dalam laporannya hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa sepanjang bulan Agustus 2019 kemarin, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,12%, dengan Indeks (IHK) sebesar 138,75. Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, seperti makanan jadi, minuman, rokok, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar.

“Dengan angka tersebut, tingkat inflasi tahun kalender (Januari hingga Agustus 2019) adalah 2,48%., sedangkan tingkat inflasi tahun kalender atau year on year mencapai 3,49%,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto. “Melihat angka tahunan tersebut, tingkat inflasi masih terkendali karena nilainya berada di bawah target pemerintah, yakni 3,5%. Kita berharap, inflasi bulan berikutnya hingga Desember tetap terkendali.”

Dari global, indeks dolar AS terpantau bergerak lebih rendah pada hari Senin, karena investor berbondong-bondong memburu aset safe haven setelah kenaikan impor AS dan mulai berlaku pada awal bulan ini. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,0750 poin atau 0,08% ke level 98,841 pada pukul 12.30 WIB.

Seperti diketahui, pada Minggu (1/9) kemarin, AS resmi memberlakukan tarif sebesar 15% terhadap sejumlah barang impor asal China, termasuk alas kaki, jam tangan pintar, dan televisi layar datar. China tak mau kalah dengan mengenakan bea masuk baru pada minyak mentah AS. “Tarif impor menandakan kita tidak akan melihat pembukaan yang sangat ramah pasar minggu ini,” ujar analis valuta asing senior di National Australia Bank, Rodrigo Catril, dilansir Reuters.

Loading...