Akhiri Pekan, Rupiah Rebound Menguat Super Tipis

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

JAKARTA – ternyata mampu bangkit ke zona hijau pada detik-detik akhir perdagangan Jumat (14/2) sore, ketika masih mencermati segala usaha China untuk memerangi wabah , membuat aset safe haven lebih diminati. Menurut catatan Index pada pukul 15.55 WIB, Garuda ditutup menguat tips 1 poin atau 0,01% saja ke level Rp13,693 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan berada di posisi Rp13.707 per dolar AS, terdepresiasi 28 poin atau 0,20% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.679 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang bergerak , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,07% dialami yuan offshore China dan dolar Taiwan, sedangkan pelemahan terdalam sebesar 0,07% menghampiri yuan onshore China.

Mata uang Benua Kuning, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, bergerak mixed ketika investor masih mencermati segala upaya Negeri Tirai Bambu dalam membendung wabah virus corona. Sejak pertama kali dilaporkan pada Desember 2019, jumlah korban tewas akibat virus terus bertambah, menjadi hampir 1.500 orang hingga Jumat pagi.

Di lain sisi, yen mampu mempertahankan keuntungan terhadap dolar AS pada akhir pekan ini, karena kekhawatiran baru tentang wabah virus corona mendukung permintaan untuk aset safe haven dan membebani harga aset berisiko. Mata uang Negeri Matahari Terbit diperdagangkan sedikit lebih tinggi pada posisi 109,79 per dolar AS di Asia, menuju jalur kenaikan hari kedua.

Dilansir Reuters, pejabat di Provinsi Hubei mengejutkan pasar keuangan ketika pada hari Kamis (13/2) kemarin mengumumkan peningkatan tajam dalam infeksi baru dan kematian akibat virus corona, yang mencerminkan adopsi metode baru untuk mendiagnosis penyakit. Ketidakpastian tentang skala epidemi cenderung mencegah investor untuk mengambil risiko berlebihan sampai ada bukti yang cukup bahwa penyebarannya telah melambat.

“Investor kembali menghindari risiko, sehingga yen dan aset safe haven lainnya telah meningkat, tetapi reaksi sejauh ini bersifat sementara dan terbatas,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Perubahan standar pelaporan di China menjadi perhatian. Ada ketakutan bahwa Tiongkok masih menyembunyikan sesuatu.”

Loading...