Akhir Pekan, Rupiah Menguat Tinggalkan Level Rp14.000

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

JAKARTA – mampu melanjutkan tren positif terhadap pada Jumat (5/6), menuju apresiasi mingguan keempat beruntun, setelah kenaikan yang dialami euro mendukung selera untuk aset berisiko. Menurut data Index pada pukul 14.58 WiB, Garuda menguat 217 poin atau 1,54% ke level Rp13.878 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan menunjukkan bahwa kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.100 per dolar AS, menguat 65 poin atau 0,46% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.165 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang juga mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,54% dialami rupiah.

Disalin dari Bisnis, rupiah bergerak menuju apresiasi mingguan keempat berturut-turut sekaligus pekan terbaiknya sejak tahun 2015. Penguatan mata uang Garuda didorong optimisme bahwa pembukaan kembali kegiatan secara bertahap dan membaiknya sentimen risiko akan meningkatkan arus modal masuk ke aset-aset berimbal hasil tinggi.

Dari pasar global, euro bertahan pada kenaikan besar pada hari Jumat, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memperluas stimulus mereka lebih dari yang diharapkan untuk menopang perekonomian yang berurusan dengan resesi terburuk sejak Perang Dunia Kedua. Mata uang tunggal Eropa diperdagangkan di level 1,1338 terhadap dolar AS, setelah naik setinggi 1,1362 pada hari Kamis, tertinggi di hampir tiga bulan.

Seperti diberitakan Reuters, keuntungan euro mendukung selera untuk mata uang berisiko di Asia dan membantu mendorong dolar AS mendekati posisi terendah tiga bulan terhadap sekeranjang mata uang utama. Indeks dolar AS terpantau melemah tipis 0,003 poin ke posisi 96,674 pada pukul 12.02 WIB, setelah sebelumnya sempat naik pada pagi hari.

ECB diketahui meningkatkan skema pembelian obligasi darurat sebesar 600 miliar euro menjadi 1,35 triliun euro dan memperpanjang skema hingga pertengahan 2021. Pasar sendiri mengharapkan ekspansi 500 miliar euro. Kepercayaan terhadap mata uang juga telah tumbuh setelah Jerman pada bulan lalu melemparkan gagasan dana pemulihan Uni Eropa.

“Tindakan baru-baru ini oleh Komisi Uni Eropa, serta ECB, telah mengurangi risiko ekor di sekitar prospek ekonomi kawasan Eropa,” kata co-head valuta asing global di Goldman Sachs di New York, Zach Pandl. “Tantangan utama Eropa adalah arsitektur kebijakan fiskal yang tidak lengkap. Namun, lembaga-lembaga Eropa membuat perubahan penting untuk memperbaiki kelemahan itu.”

Loading...