Jumat Sore, Rupiah Hijau Jelang Rilis Nonfarm Payrolls AS

Rupiah - news.okezone.comRupiah - news.okezone.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada Jumat (3/4) sore, ketika investor menantikan rilis data nonfarm payrolls AS yang akan diumumkan hari ini waktu setempat. Menurut Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup menguat 65 poin atau 0,39% ke level Rp16.430 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp16.464 per dolar AS, menguat tajam 277 poin atau 1,66% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.741 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga bisa mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,39% menghampiri ringgit Malaysia.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya mampu bergerak lebih tinggi pada hari Jumat, beringsut menuju kenaikan mingguan hampir 2%, didorong oleh lonjakan minyak dan karena investor mencari keamanan di tengah memburuknya dampak dari pandemi coronavirus. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,045 poin atau 0,04% ke level 100,225 pada pukul 11.59 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, keuntungan mengkonsolidasikan kekuatan dolar AS setelah akhir kacau-balau sepanjang bulan lalu, membuat greenback naik. Namun, mata uang ini kembali merosot ketika Federal Reserve membanjiri pasar dengan likuiditas. Kenaikan terbesar dalam harga minyak mentah membantu greenback rebound terhadap euro semalam, karena AS adalah produsen minyak dan gas utama dunia.

Meski demikian, pergerakan greenback dalam perdagangan Asia relatif sempit karena pedagang bersiap untuk berita buruk ketika data payroll bulanan AS dijadwalkan rilis pada Jumat sore waktu setempat. Pandemi virus corona yang makin memburuk di AS dan saat lockdown semakin meluas, membuat klaim pengangguran mingguan sudah melonjak menjadi 6,6 juta pada pekan lalu.

“Pasar tenaga kerja AS telah mengalami kolaps,” kata analis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso. “Kenaikan dolar AS karena data ekonomi AS yang buruk mencerminkan status greenback sebagai mata uang kontra-siklus. Ia terangkat ketika ekonomi global memburuk, bahkan jika kemunduran ekonomi global adalah Negeri Paman Sam.”

Loading...