Menguat di Awal Senin, Aksi Profit Taking Bayangi Rupiah

Rupiah menguatRupiah menguat tipis ke level Rp13.640 per dolar AS - republika.co.id

JAKARTA – kembali bangkit ketika mengawali Senin (20/1) setelah sebelumnya sempat tergelincir di akhir pekan (17/1) kemarin. Menurut paparan Index, Garuda membuka transaksi dengan menguat tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.640 per . Namun, spot kembali melemah 9 poin atau 0,07% ke posisi Rp13.654 per pada pukul 08.38 WIB, kemungkinan besar karena aksi profit taking.

Menurut Analis Monex Investindo, Faisyal, seperti dilansir Kontan, rupiah rawan terkena aksi ambil untung pada perdagangan awal pekan ini. Aksi ambil untung terjadi karena rupiah sudah sangat kuat. Pada 2019 kemarin, rupiah berhasil menguat nyaris 3,5% di hadapan greenback. Kemudian, sejak akhir 2019 hingga akhir pekan kemarin, mata uang domestik naik 1,9% terhadap AS, sekaligus mata uang terbaik di dunia.

“Selain itu, ada skeptisme terhadap hasil kesepakatan dagang antara China dan AS fase 2 yang sepertinya tidak akan terealisasi dalam waktu dekat,” tutur Faisyal. “Sementara itu, data AS, yakni pembangunan perumahan, melonjak ke level tertinggi selama 13 tahun pada Desember kemarin, menunjukkan pemulihan perumahan kembali ke jalur di tengah rendahnya tingkat hipotek.”

Hampir senada, analisis CNBC Indonesia memperlihatkan bahwa rupiah rentan terkena aksi profit taking. Penguatan yang dialami mata uang Garuda tentunya menggoda investor untuk mencairkannya. Tekanan jual membuat rupiah mengalami koreksi, meski tipis saja. “Koreksi masih sehat, karena kalau penguatan rupiah tidak terkendali, justru menciptakan penggelembungan nilai aset,” tulis CNBC Indonesia.

Sedikit berbeda, Ekonom PT Pemeringkat Indonesia (Pefindo), Fikri C. Permana, memperkirakan, sentimen domestik rupiah masih positif. Salah satu faktor pendorongnya adalah besarnya spread yield surat berharga tenor 10 tahun Indonesia dan AS yang diperkirakan masih akan mendorong penguatan rupiah. Selain itu, level CDS Indonesia menurun.

Sementara, Analis Asia Trade Point Futures, Deddy Yusuf, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen positif dari dalam negeri. Sentimen tersebut berasal dari capital inflow yang masih cukup besar serta neraca dagang yang membaik. Namun, tren positif ini menurutnya kemudian akan diikuti dengan aksi profit taking.

Loading...