Selasa Sore, Rupiah Menguat Jelang Pidato Powell

Rupiah - www.tribunnews.comRupiah - www.tribunnews.com

JAKARTA – Setelah bergulir dalam kisaran yang sangat sempit, rupiah akhirnya mampu menutup perdagangan Selasa (23/2) sore di area hijau ketika menantikan pidato Gubernur , Jerome Powell. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.56 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 25 poin atau 0,18% ke level Rp14.092,5 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.126 per dolar AS, terdepresiasi 28 poin atau 0,19% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.098 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang mampu mengungguli , termasuk yen Jepang, yuan China, dan baht Thailand.

Dari global, indeks dolar AS masih berkutat di level terendah enam minggu pada hari Selasa, sedangkan mata uang komoditas berkeliaran di sekitar posisi tertinggi multi-tahun, karena fokus investor bergeser ke bagaimana Jerome Powell mungkin menanggapi ekspektasi yang bangkit kembali. Mata uang Paman Sam terpantau cuma menguat tipis 0,011 poin atau 0,01% ke level 90,021 pada pukul 11.12 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, kenaikan bahan-bahan seperti minyak, tembaga, hingga kayu dan susu bubuk telah mendorong mata uang seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Namun, keuntungan tersebut datang dengan kenaikan ekspektasi inflasi di seluruh dunia dan aksi jual besar-besaran dalam obligasi bertanggal panjang.

Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan paparan Powell di hadapan Kongres mengenai kode seputar kebijakan moneter AS ke depan. Investor mengharapkan Powell untuk memberikan jaminan bahwa The Fed akan menoleransi inflasi yang lebih tinggi tanpa segera menaikkan , yang mereka katakan dapat menenangkan pasar obligasi dan akhirnya membebani greenback.

“Saya pikir dia akan berbicara tentang sisi negatifnya,” kata analis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso, di Sydney. “Jika ada, saya pikir dia akan memberi pasar sedikit mandi air dingin dan berkata ‘Mr Market, Anda sedikit lebih maju dari diri Anda sendiri’. Ada banyak risiko dan ekonomi AS masih sangat jauh dari kesempatan kerja penuh.“

Loading...