Rupiah Menguat ke Level Rp 13.570/USD di Awal Perdagangan

rupiah-dolar

Jakarta dibuka 0,06 persen atau 8 poin ke posisi Rp 13.570 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (26/10). Kemarin, Rabu (25/10) mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 0,33 persen atau 45 poin ke level Rp 13.578 per AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.563 hingga Rp 13.585 per AS.

Sedangkan indeks dolar AS terpantau melemah sebesar 0,08 persen menjadi 93,693 terhadap sejumlah mata uang utama di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB seiring dengan dirilisnya sejumlah terbaru Amerika Serikat dan spekulasi terkait kandidat ketua Federal Reserve yang baru.

Menurut dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat pada Rabu (25/10), pesanan baru AS untuk barang-barang tahan lama pada September 2017 naik 5,1 miliar dolar AS atau 2,2 persen menjadi 238,7 miliar dolar, melebihi konsensus untuk kenaikan 1,0 persen.

Pada laporan terpisah, Departemen Perdagangan juga menginformasikan bahwa penjualan rumah keluarga tunggal baru di AS pada September 2017 berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan sebesar 667.000 unit, melebihi prediksi pasar. Perolehan tersebut 18,9 persen di atas tingkat yang direvisi Agustus 2017 sebesar 561.000 unit dan 17,0 persen melebihi perkiraan September 2016 sebesar 570.000 unit.

Para investor juga masih terus mencermati siapa sosok yang akan menggantikan Ketua Janet Yellen tahun depan. Pasar sendiri mengharapkan kandidat ketua yang lebih hawkish. “Agar suku bunga dapat naik lebih cepat,” kata Research & Analyst Valbury Asia Lukman Leong, seperti dilansir Kontan.

Sosok John Taylor belakangan santer dikabarkan menjadi calon kuat pengganti Janet Yellen pada Februari 2018 depan. Selain akrab dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Taylor juga menyatakan bisa menaikkan suku bunga menjadi lebih tinggi. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Desember 2017 depan semakin besar dan menginjak angka 80%.

Oleh sebab itu, Lukman berpendapat jika rupiah masih berpotensi untuk kembali bergerak menguat walaupun cenderung terbatas. Selain dipengaruhi oleh faktor global, gerak rupiah juga dipengaruhi data inflasi. Apabila inflasi cenderung turun, maka BI berpotensi untuk kembali memangkas BI 7-day reverse repo rate yang dapat menopang gerak rupiah.

Loading...