Rupiah Menguat di Tengah Fokus Pasar Terhadap Rencana Pajak AS

seribu-rupiah-uangkertas

Jakarta – Nilai tukar dibuka 0,04 persen atau 5 poin ke Rp 13.511 per AS pada awal pagi hari ini, Jumat (10/11). Sebelumnya, Kamis (9/11) mata uang Garuda ditutup terdepresiasi 0,01 persen atau 2 poin ke posisi Rp 13.516 per USD usai diperdagangkan antara rentang angka Rp 13.507 hingga Rp 13.524 per AS.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,44 persen menjadi 94,451 di akhir perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat pagi WIB lantaran para pelaku kini tengah fokus pada rencana Partai Republik di senat yang baru saja dirilis.

Senat Republik dilaporkan telah meluncurkan rencana merombak kode pajak AS yang mengandung perbedaan-perbedaan penting dibandingkan dengan rencana pajak DPR. RUU Senat akan menunda pemotongan tarif pajak perusahaan dari 35 persen menjadi 20 persen hingga tahun 2019 mendatang.

Sementara itu, dari sektor berdasarkan dari Departemen Amerika Serikat, dalam pekan yang berakhir 4 November 2017, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman mencapai 239 ribu, naik 10 ribu dari tingkat sebelumnya yang tak direvisi sebesar 229 ribu.

Masih dalam laporan yang sama, rata-rata pergerakan empat minggu mencapai angka 231.250, menurun 1.250 dari rata-rata minggu lalu yang tak direvisi sebesar 232.500. Perolehan tersebut merupakan tingkat terendah untuk rata-rata sejak 31 Maret 1973 yang kala itu bisa mencapai angka 227.750.

Dari dalam negeri, gerak rupiah sempat mengalami koreksi terbatas di akhir perdagangan kemarin. “Koreksi rupiah terbatas karena sejumlah anggota parlemen AS dari partai Republik sedang mempertimbangkan penundaan setahun sebelum mengimplementasikan kebijakan pemotongan pajak korporasi,” ujar Research & Analyst Valbury Asia Futures Lukman Leong, seperti dilansir Kontan.

Ekonom BCA David Sumual menambahkan, rupiah sempat tertekan lantaran China pada Oktober 2017 hanya 254 miliar yuan, di bawah perkiraan pasar sebesar 275 miliar yuan. “Hal ini kemungkinan memberikan sedikit tekanan pada pasar hari ini karena China mitra dagang Indonesia yang kuat,” papar David. Meski demikian, data consumer price index (CPI) China kembali naik 1,9 persen dan diharapkan dapat menopang gerak rupiah pada perdagangan hari ini.

Loading...