Menguat di Senin Pagi, Rupiah Siap Balas Dolar?

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (16/11) pagi - www.rctiplus.com

JAKARTA – Setelah mengalami koreksi sesaat, agaknya melakukan balas dendam terhadap greenback pada perdagangan Senin (16/11). Menurut paparan Bloomberg Index, Garuda membuka transaksi dengan 40 poin atau 0,28% ke level Rp14.130 per dolar AS. Sebelumnya, spot harus ditutup stagnan di posisi Rp14.170 per dolar AS pada Jumat (13/11) kemarin.

“Kemenangan dalam pemilihan yang mendorong aliran modal masuk ke berkembang menjadi salah satu katalis yang mengurangi volatilitas di pasar global,” tutur CIO – Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula, dilansir Bisnis. “Inflow yang masuk ke berkembang ini akan memperkuat nilai tukar. Dolar AS melemah, sedangkan nilai tukar emerging markets, salah satunya rupiah, menguat.”

Ke depannya, Ezra melihat jumlah aliran modal masuk asing itu akan terus bertambah mengingat yield pemerintah RI bertenor 10 tahun relatif masih tinggi di dunia dengan inflasi rendah dan suku bunga sebesar 4%. “Kami melihat fundamental rupiah juga masih sangat bagus ke depannya karena defisit neraca berjalan sudah lebih turun juga sekarang,” imbuh Ezra.

Sementara, berdasarkan analisis CNBC Indonesia, kabar bagus bagi mata uang Garuda datang dari investor asing yang mulai ‘memborong’ rupiah lagi. Sebuah survei dari Reuters menunjukkan angka -1,01, melesat dari dua pekan lalu yang masih positif 0,09. Sekadar , semakin tinggi angka negatif, artinya pelaku pasar semakin banyak mengambil posisi long rupiah, yang artinya mata uang domestik.

Di sisi lain, menurut analis Global Kapital Investama, Alwi Assegaf, saat ini sebenarnya pergerakan rupiah cenderung gamang, antara euforia mengenai kabar positif virus , tetapi dibayangi kekhawatiran lonjakan kasus COVID-19, yang mendorong investor melirik aset safe haven. Belakangan, di Eropa dan AS, kasus baru terus memang bertambah dan membuat investor sementara menjauh terlebih dahulu dari aset berisiko.

“Namun, pada tutup perdagangan Jumat kemarin, sentimen risk-on kembali muncul di akhir,” tutur Alwi, dikutip dari Kontan. “Hal ini ditandai dengan penguatan bursa saham Wall Street setelah hasil earning yang solid, serta pernyataan dewan penasihat pandemi Biden, yang melihat tidak adanya urgensi untuk menjalankan lockdown saat ini.”

Loading...