Terpengaruh Yuan China, Rupiah Berakhir Melemah Tajam

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (3/2) sore - sindonews.com

JAKARTA – Rupiah gagal mengatrol posisi ke area hijau pada perdagangan Senin (3/2) sore, ketika pelemahan China yang cukup dalam memengaruhi sebagian besar pergerakan di Benua Asia. Menurut laporan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 87 poin atau 0,64% ke level Rp13.742 per dolar .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.726 per dolar AS, terdepresiasi 64 poin atau 0,47% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.662 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk di hadapan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 1,51% menghampiri yuan China.

Dilansir Bloomberg, yuan memimpin pelemahan mata uang Benua Kuning, ketika dibuka kembali setelah libur Tahun Baru Imlek, di tengah wabah . Meski Bank Sentral China menyuntikkan dana 900 miliar yuan dan akan menambah 300 miliar yuan dengan kontrak 14 hari, langkah ini dinilai belum cukup mencegah jatuhnya saham dan mata uang Negeri Panda.

“Pasar valas Asia terus terlihat rentan, dengan pelemahan yang tidak mengejutkan di pasar China membebani mata uang regional,” tutur ahli analis emerging markets senior di TD Securities, Mitul Kotecha. “Langkah-langkah China untuk menambah likuiditas dan memotong dapat membantu mengurangi beberapa tekanan jangka pendek, tetapi kekhawatiran masih membebani pasar.”

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau bergerak lebih tinggi pada hari Senin, didukung kenaikan stabil belanja konsumen AS meski pertumbuhan moderat pada tahun ini dapat membatasi pada jalur pertumbuhan yang lebih lambat. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,88 poin atau 0,09% ke level 97,478 pada pukul 12.49 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, Departemen Perdagangan AS pada hari Jumat (31/1) waktu setempat melaporkan pengeluaran konsumen, yang menyumbang lebih dari dua per tiga kegiatan ekonomi AS, meningkat 0,3% sepanjang Desember 2019, terutama untuk perawatan kesehatan. Peningkatan belanja konsumen ini sejalan dengan prediksi para ekonom.

Ketika disesuaikan dengan , belanja konsumen naik 0,1% pada Desember, setelah naik 0,3% pada bulan sebelumnya. Itu kemungkinan menempatkan belanja konsumen pada lintasan pertumbuhan yang lebih lambat menuju kuartal pertama. Untuk keseluruhan tahun 2019, pengeluaran konsumen meningkat 4,0%, kenaikan terkecil dalam tiga tahun, setelah naik 5,2% pada 2018.

Loading...