Neraca Perdagangan Defisit, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (16/12) sore -mehranschool.org

JAKARTA – Setelah tidak terlalu banyak bergerak, rupiah akhirnya harus menutup Senin (16/12) di area merah ketika Indonesia sepanjang bulan November 2019 dilaporkan mengalami defisit. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.010 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa neraca Indonesia sepanjang bulan November kemarin mengalami defisit sebesar 1,33 miliar dolar AS, dengan total ekspor 14,01 miliar dolar AS dan total impor 15,34 miliar dolar AS. Defisit tersebut disebabkan oleh defisit sektor migas sebesar 1,02 miliar dolar AS dan nonmigas sebesar 330,9 juta dolar AS.

“Defisit yang terjadi pada November 2019 memang cukup dalam, namun angkanya lebih kecil dibandingkan defisit yang terjadi pada periode yang sama tahun lalu, yakni 2,06 miliar dolar AS,” ungkap Kepala BPS, Suhariyanto. “Kita semua perlu ekstra hati-hati, karena melambat, permintaan menurun. Jadi, kita perlu ekstra hati-hati.”

Suhariyanto menambahkan, ekspor nonmigas mengalami penurunan pada beberapa komoditas seperti biji dan logam, besi dan baja, serta bahan bakar mineral. Sebaliknya, impor bahan baku mengalami kenaikan sebesar 2,63% secara bulanan meski turun 13,23% secara tahunan. Barang modal naik 2,58%, tetapi secara tahunan turun 3,55%.

Sementara itu, dari global, pergerakan mata uang Asia cenderung variatif pada hari Senin, ketika euforia kesepakatan AS- diredam oleh minimnya deal dan keengganan investor untuk membuat prediksi menjelang Natal. Siang tadi, dolar Taiwan memimpin penguatan dengan apresiasi 0,39%, sedangkan yuan onshore mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,19%.

Seperti dilansir Reuters, Washington dan Beijing mendinginkan perang dagang di antara mereka pada akhir pekan kemarin, mengurangi beberapa tarif AS sebagai imbalan atas apa yang dikatakan pejabat AS akan menjadi lompatan besar dalam pembelian pertanian negara tersebut. Meski demikian, pasar masih menunggu rincian dari kesepakatan yang belum ditandatangani.

“Kami telah melihat lebih banyak laporan tentang perbedaan antara apa yang dikatakan AS dan apa yang China katakan tentang perjanjian itu,” kata kepala penelitian pendapatan tetap di JPMorgan Securities di Tokyo, Takafumi Yamawaki. “AS berbicara tentang ukuran produk pertanian yang akan dibeli China, tetapi China tetap bungkam.”

Loading...