Senin Sore, Rupiah Tetap Loyo Tertekan Eskalasi Tarif AS-China

Rupiah dan dolarRupiah melemah pada perdagangan Senin (26/8) sore - market.bisnis.com

JAKARTA – Rupiah harus menerima nasib terdampar di area merah pada Senin (26/8) sore ketika eskalasi AS- membuat lebih cenderung beralih dari aset risiko dan memburu aset yang lebih aman. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda terpantau melemah 28 poin atau 0,19% ke level Rp14.243 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.261 per , terdepresiasi 12 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.249 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga takluk melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,65% menghampiri yuan offshore China.

Dari pasar global, indeks dolar AS mencoba bertahan di zona hijau pada awal pekan, ketika investor lebih cenderung mengincar aset safe haven, seperti yen Jepang, di tengah eskalasi perang dagang AS-China yang terus memburuk. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,619 poin atau 0,17% ke level 97,809 pada pukul 14.02 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, saham AS harus jatuh pada hari Jumat (23/8) kemarin ketika Presiden AS, , mengumumkan tarif tambahan sebesar 5% terhadap barang-barang impor asal China senilai 550 miliar dolar AS. Kebijakan ini meluncur hanya beberapa jam setelah Beijing menerapkan tarif pembalasan terhadap produk asal Negeri Paman Sam senilai 75 miliar dolar AS.

Pada pertemuan G7 di Prancis selama akhir pekan, Trump membuat risau pedagang dengan menunjukkan ia mungkin memiliki pemikiran kedua tentang tarif. Gedung Putih lantas mengklarifikasi komentar ini, mengatakan Trump berharap dia telah menaikkan tarif untuk barang-barang Cina, bahkan lebih tinggi pada minggu lalu.

Tertekan kebijakan ini, yuan offshore harus jatuh lebih dalam, juga terbebani oleh ekspektasi perlambatan di Negeri Panda. Sebaliknya, franc Swiss dan emas, dua aset yang dicari selama masa penghindaran risiko tinggi, melonjak di awal perdagangan Asia. Investor saat ini memang cenderung mengalihkan uang dari saham ke aset yang kurang berisiko.

“Spekulan datang ke pasar sangat awal untuk menekan dolar AS,” kata ahli strategi valuta asing di Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki. “Fakta bahwa yuan offshore harus turun sebanyak ini menunjukkan spekulan menjadi sedikit liar. Perang dagang mendorong semua aksi ini, dan saya tidak melihat ini akan berakhir dalam waktu dekat.”

Loading...