Awali Tahun 2020, Rupiah Melemah di Kamis Pagi

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

JAKARTA – langsung terjerembab ke area merah ketika membuka pertama di awal tahun 2020. Menurut catatan Bloomberg Index, Garuda mengawali Kamis (2/1) pagi dengan melemah 13 poin atau 0,09% ke level Rp13.879 per . Sementara itu, terpantau bergerak turun 0,014 poin atau 0,01% ke posisi 96,431 pada pukul 08.32 WIB.

Menurut ulasan CNBC Indonesia, mengawali tahun 2020, rupiah tampaknya akan melemah dalam rentang terbatas. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi mata uang sudah terlihat di pasar No-Deliverable Market (NDF). Ini adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula, yang tidak jarang memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot.

Pada hari ini, sentimen datang dari Indonesia bulan Desember 2019 yang akan diumumkan siang nanti oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan Desember adalah 0,51% secara month-on-month, sedangkan tahunan (year-on-year) adalah sebesar 2,93% dan inti tahunan adalah 3,125%.

Sedikit berbeda, ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, seperti dikutip Kontan, memprediksi indeks harga konsumen (IHK) bulan Desember 2019 akan menunjukkan inflasi sebesar 0,42% secara bulanan. Menurutnya, ini disebabkan oleh faktor seasonal, seperti momen liburan Natal dan Tahun Baru. “Kontribusi tertinggi akan datang dari harga transportasi, khususnya pesawat terbang,” katanya.

Sementara, bila melihat dari kelompok pengeluaran bahan makanan, ia memprediksi bahwa perubahan harga pada kelompok tersebut akan stabil. Dengan menimbang kondisi tersebut, Andry pun memprediksi inflasi pada keseluruhan tahun 2019 akan mencapai 2,80% secara tahunan atau lebih rendah dari inflasi pada bulan November 2019 yang sebesar 3,00% year-on-year.

Untuk awal tahun 2020, ekonom Maybank Kim Eng Sekuritas, Luthfi Ridho, menuturkan bahwa inflasi pada tahun baru ini masih akan terkendali. Ia juga memproyeksikan inflasi full year 2020 akan berada di kisaran 3,5% secara year-on-year. “Namun, dalam radar kami, yang akan memengaruhi inflasi dalam jangka pendek adalah harga rokok dan juga tarif BPJS Kesehatan,” tutur Luthfi.

Loading...