BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Naik 1 Poin di Pembukaan

Rupiah - www.detikepri.comRupiah - www.detikepri.com

Jakarta dibuka menguat tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp13.984 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (20/12). Kemarin, Kamis (19/12), kurs Garuda berakhir terapresiasi tipis sebesar 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp13.985 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau cenderung datar. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,02 persen menjadi 97,3816 lantaran para kini sedang mencerna sejumlah data Amerika Serikat terbaru.

Pada Kamis (19/12), lembaga riset Conference Board yang berbasis di New York melaporkan bahwa indeks ekonomi utama AS (LEI) tak berubah di angka 111,6 pada November 2019, menyusul penurunan 0,2 persen pada Oktober dan September. LEI (Leading Economic Index) merupakan pengukur tertimbang dari 10 indikator yang dirancang untuk memberikan sinyal puncak dan palung dalam siklus bisnis.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, pada pekan yang berakhir 14 Desember, klaim pengangguran awal Amerika Serikat, cara kasar untuk mengukur PHK mencapai 234.000, turun 18.000 dari tingkat yang tak direvisi pada pekan sebelumnya. Para pun tengah menanti data bruto (PDB) AS yang akan dirilis pada hari Jumat waktu setempat.

Di sisi lain, kurs rupiah minggu ini cenderung bergerak di zona hijau lantaran kemarin sedang menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Pihak BI sendiri akhirnya memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 5 persen. Sedangkan suku bunga Deposit Facility (DF) tetap bertahan di level 4,25 persen dan suku bunga Lending Facility (LF) pada level 5,75 persen.

Menurut Vishnu Varathan, head of economics & strategy Mizuho Bank di Singapura, konsolidasi rupiah pekan ini mencerminkan optimisme terhadap kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dengan China. “Rupiah akan diperdagangkan pada sekitar Rp13.900-Rp14.150 per dolar AS dalam jangka pendek,” kata Varathan terhadap Bloomberg, seperti dilansir Kontan.

Loading...