Senin Sore, Rupiah Hijau Saat Kurs Asia Abaikan Brexit

rupiah dan dolarRupiah menguat pada perdagangan Senin (21/10) sore - www.winnetnews.com

JAKARTA – mampu melanjutkan penguatan hingga perdagangan Senin (21/10) sore, ketika mayoritas emerging market telah mengabaikan ketidakpastian tentang yang sempat membuat greenback naik. Menurut laporan Index pada pukul 15.55 WIB, Garuda menguat 67 poin atau 0,47% ke level Rp14.081 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.132 per dolar AS, menguat 8 poin atau 0,05% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.140 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia sukses mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,66% dialami won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak labil pada hari Senin, ketika ketidakpastian mengenai kesepakatan Brexit merenggut tenaga pound sterling. Mata uang Paman Sam sempat menguat 0,053 poin atau 0,05% ke level 97,335 pada pukul 12.29 WIB, namun kembali melemah 0,110 poin atau 0,11% ke posisi 97,172 pada pukul 15.34 WIB.

Dilansir CNBC, upaya Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, digagalkan oleh sekelompok politisi lintas partai di parlemen yang memilih untuk menunda ‘pemungutan suara yang berarti’ dalam kesepakatan Brexit barunya. Itu memaksa Johnson untuk meminta perpanjangan waktu tenggat keberangkatan 31 Oktober di Brussels, tetapi para pemimpin Uni Eropa tidak harus menerimanya.

Minggu ini, pemerintah Inggris akan mengajukan Withdrawal Agreement Bill untuk mencoba dan melewati kedua majelis tinggi dan rendah parlemen. Pemungutan suara oleh anggota parlemen kemungkinan akan dilakukan akhir pekan ini. “Pound sterling kemungkinan akan tetap agak volatile, karena tampaknya peluang Brexit sangat sulit, dan ratifikasi Withdrawal Agreement baru akan terjadi minggu ini,” tulis ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia.

Meski demikian, sebagian besar mata uang emerging market di Asia menguat ketika optimisme mengenai negosiasi perdagangan antara pemerintah AS dan mampu mengimbangi ketidakpastian seputar keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Menurut Kota Hirayama, ekonom senior pasar berkembang di SMBC Nikko Securities, nilai tukar mata uang emerging market telah mengabaikan ketidakpastian tentang Brexit.

Loading...