Rupiah Ditutup Menguat Tipis Jelang Notulensi FOMC

mampu memanfaatkan tren negatif AS yang bergerak melemah jelang pengumuman hasil meeting. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri sesi dagang Rabu (22/2) ini dengan penguatan tipis sebesar 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.368 per AS, usai bergerak di rentang Rp13.344 hingga Rp13.371 per AS.

Rupiah mengawali dengan dibuka rebound 10 poin atau 0,7% ke posisi Rp13.362 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali menguat 13 poin atau 0,10% ke level Rp13.359 per dolar AS. Tren positif ini bisa dipertahankan hingga akhir dagang meski indeks dolar AS juga berusaha bergerak menguat di sore hari.

Saat ini, fokus memang tertuju pada catatan rapat The Fed yang bakal diumumkan Rabu malam waktu setempat atau Kamis (23/2) dini hari WIB. Investor menantikan sinyal jadwal kenaikan suku bunga oleh AS. Pasar sendiri memprediksi catatan Fed yang dirilis tersebut bisa memperkuat atau melemahkan komentar hawkish terbaru yang dikemukakan pembuat .

Sebelumnya, Senin kemarin, Presiden The Fed Cleveland, Loretta Mester, mengatakan bahwa rencana kenaikan tarif nyaman jika kinerja kondisi ekonomi mampu dipertahankan. Sementara itu, Presiden The Fed Philadelphia, Patrick Harker, juga menuturkan bahwa dia akan mendukung peningkatan suku bunga pada pertemuan kebijakan pertengahan Maret. Dengan catatan, angka inflasi, output dan, data lainnya terus menunjukkan ekonomi AS tumbuh.

Karena aksi wait and see ini, pergerakan dolar AS cenderung melemah di pasar Asia sepanjang perdagangan hari ini. The greenback tergelincir 0,01% ke posisi 101,36 pada pukul 13.13 WIB, meski mampu berbalik menguat 0,05% ke level 101,42 pada pukul 13.41 WIB. “Pergerakan dolar AS didorong komentar The Fed, dan pasar sedang menunggu catatan The Fed,” ujar Kepala Strategi Mata Uang Daiwa Securities, Mitsuo Imaizumi.

Dari dalam negeri, siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp13.356 per dolar AS, menguat 14 poin atau 0,10% dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp13.370 per dolar AS. Di saat yang sama, mayoritas mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar AS, dengan kenaikan tertinggi dialami won Korea Selatan sebesar 0,41% dan yen Jepang sebesar 0,19%.

Loading...