Rupiah Ditutup Menguat Meski Surplus Neraca Perdagangan Rendah

Rilis neraca Indonesia Juli 2016 yang hanya mampu mencatatkan 598,3 juta ternyata tak menghalangi rupiah untuk digdaya pada tutup dagang awal pekan ini (15/8). Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup 28 poin atau 0,21% ke level Rp13.090 per dolar .

Rupiah sendiri bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan . Usai dibuka menguat, spot berbalik tipis 4 poin atau 0,03% ke Rp13.122 pada pukul 10.09 WIB. Lalu, mata uang Garuda bangkit dengan menguat 3 poin atau 0,03% ke Rp13.115 pada jeda siang. Meski Indonesia diumumkan turun, rupiah mampu bertahan dengan naik 24 poin atau 0,18% ke Rp13.094 per dolar AS jelang penutupan.

Menurut rilis Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2016 mengalami surplus tipis 598,3 juta dolar AS dengan total ekspor 9,51 miliar dolar AS dan impor 8,92 miliar dolar AS. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang bulan lalu itu menjadi yang terendah dalam tujuh tahun terakhir atau sejak 2009.

“Banyak pengusaha yang sudah meliburkan bisnisnya seminggu sebelum Lebaran,” ujar Kepala BPS, Suryamin. “Setelah Lebaran, juga masih banyak yang libur. Jadi, pada Juli, hari efektif cuma 16 hari. Ini yang membuat ekspor Indonesia terpangkas.”

Meski begitu, laju mata uang Garuda tetap kokoh dan mampu ditutup di zona hijau. Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, rupiah memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS serta kembali naiknya minyak dunia. “Melihat pelemahan dolar AS dan penguatan minyak, kans rupiah untuk naik memang besar,” katanya.

Pada Senin siang, harga minyak WTI kontrak September terpantau menguat 0,38 poin atau 0,85% ke 44,87 dolar AS per barel. Sementara, pada saat yang sama, minyak jenis untuk kontrak Oktober juga naik 0,33 poin atau 0,70% ke level 47,30 dolar AS per barel.

Loading...