Rupiah Ditutup Melemah Saat Dolar Kembali Bergerak Lesu

harus mengakhiri Kamis (22/6) ini di zona merah meski indeks AS kembali bergerak negatif menjelang pengumuman ekonomi Paman Sam terbaru. Menurut Index pukul 15.57 WIB, mata uang Garuda menutup transaksi dengan pelemahan sebesar 6 poin atau 0,05% ke level Rp13.324 per dolar AS.

Mengawali perdagangan hari ini, rupiah sebenarnya dibuka dengan penguatan sebesar 11 poin atau 0,08% ke posisi Rp13.307 per dolar AS. Selepas jeda siang atau pukul 13.21 WIB, mata uang Garuda kembali naik tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.315 per dolar AS. Sayangnya, jelang penutupan atau pukul 15.35 WIB, spot berbalik terdepresiasi 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.321 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS kembali mengalami koreksi pada perdagangan Kamis dibayangi sentimen data klaim pengangguran mingguan Paman Sam yang rencananya dirilis pada hari ini waktu setempat, selain terseret pelemahan harga minyak dunia. Indeks dolar AS melandai 0,091 poin atau 0,09% ke level 97,468 pada pukul 12.43 WIB, setelah dibuka turun tipis 0,015 poin atau 0,02% ke 97,544.

Menurut perkiraan ekonom, data klaim pengangguran mingguan AS diprediksi mengalami kenaikan menjadi 241.000 orang dari pekan sebelumnya sebesar 237.000 orang. Presiden New York, William Dudley, pada Selasa (20/6) kemarin mengharapkan pasar tenaga kerja yang semakin kencang dapat memicu inflasi, sehingga mendukung adanya kenaikan lanjutan.

Di lain sisi, harga minyak mentah dunia kembali merosot ke level terendah baru 2017 akibat penambahan produksi dari sejumlah negara, terutama Amerika Serikat. Pada perdagangan hari ini pukul 10.30 WIB, harga minyak WTI kontrak Agustus 2017 turun 0,07 poin atau 0,16% ke 42,46 dolar AS per barel, yang merupakan level terendah sejak 10 Agustus 2016 lalu.

Pelemahan harga minyak WTI membawa komoditas tersebut dalam kondisi bear market di tengah kekhawatiran bahwa jumlah cadangan di Amerika Serikat (AS) akan merusak upaya OPEC menahan kelebihan suplai global, yang turut berdampak pada pergerakan dolar terhadap yen. “Penghindaran risiko yang timbul dari penurunan harga minyak merupakan salah satu faktor yang menjelaskan pergerakan dolar AS terhadap yen,” ujar ahli strategi FX untuk Maybank di Singapura, Christopher Wong.

Loading...