Rupiah Diprediksi Melemah Terbatas Seiring Turunnya Harga Minyak Dunia

Tren pelemahan diprediksi masih akan berlanjut pada Rabu (3/2). Kembali turunnya dunia serta data ekonomi yang kurang baik dari Cina membuat laju tertahan.

Pada perdagangan , rupiah dibuka 30 poin atau 0,22 persen ke level Rp13.721 per dolar AS. Kemudian, menurut data Bloomberg Index, mata uang Garuda kembali 62 poin atau 0,45 persen ke Rp13.725 per dolar AS, pada pukul 08.45 WIB.

“Pelemahan rupiah masih akan berlanjut, mengikuti anjloknya harga minyak hingga hampir 5 persen,” ungkap Kepala Riset PT NH Securities Indonesia, Reza Priyambada. “Di samping itu, data ekonomi yang kurang baik dari Cina juga bisa menjadi sentimen negatif bagi rupiah.”

Kombinasi antara data ekonomi Cina yang masih menunjukkan perlambatan, serta belum adanya konfirmasi dari OPEC tentang pembahasan pemangkasan produksi minyak mentah membuat harga minyak kembali tersungkur hingga dini hari tadi. Melemahnya harga minyak dunia di area 30 dolar AS per barel memang membuat mata uang negara berkembang berbasis komoditas cenderung melemah.

Meski begitu, lanjut Reza, pelemahan rupiah masih bisa terbantu oleh aliran dana masuk ke instrumen keuangan berbasis suku bunga. Selain itu, masih adanya imbas dari stabilnya inflasi dan afirmasi Moody’s sebelumnya diharapkan bisa mendongkrak rupiah. “Rupiah akan berada di level support Rp13.690 per dolar AS, serta resisten Rp13.545 per dolar AS,” tambahnya.

Sementara menurut analis SoeGee Futures, Nizar Hilmy, pelemahan rupiah kali hanya merupakan koreksi teknikal. Menurutnya, bulan Januari 2016 akan mendukung penguatan rupiah. “Rupiah akan melemah terbatas di kisaran Rp13.600 hingga Rp13.750 per dolar AS,” prediksi Nizar.

Loading...