Rupiah Dibuka Menguat Jelang Rilis Data Inflasi Februari 2016

Rupiah mengawali Selasa (1/3) dengan dibuka menguat 0,1 persen ke Rp13.361 per dolar AS. Kemudian, menurut data Index, mata uang Garuda kembali terapresiasi 9 poin atau 0,06 persen ke level Rp13.367 per dolar AS pada pukul 08.46 WIB.

Menurut Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, , mata uang Garuda diprediksi akan melanjutkan penguatannya karena mendapatkan berbagai sentimen positif, seperti harga minyak yang kini berada di level 32 dolar AS per barel, meredanya kekhawatiran akan Cina, serta pertemuan G20. “Rupiah akan bergerak support Rp13.450 per dolar AS serta resisten Rp13.200 per dolar AS,” papar Reza.

Di samping itu, laju kurs rupiah juga akan sangat dipengaruhi rilis data inflasi Februari oleh Badan Pusat Statistik (). Tekanan inflasi selama bulan Februari diperkirakan rendah, bahkan kemungkinan terjadi deflasi.

Sejumlah analis mengatakan, rendahnya tekanan inflasi selama Februari 2016 disebabkan penurunan harga pangan yang signifikan. “Penurunan harga terjadi karena faktor siklikal. Pada Februari 2016 akan terjadi deflasi 0,11 persen,” ujar Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, juga melihat adanya deflasi sebesar 0,15 persen pada Februari ini. “Selama Februari 2016, harga daging ayam turun 6,7 persen dan bawang merah turun 13,1 persen,” katanya.

Di samping itu, rupiah juga akan mendapat sokongan dari optimisme terhadap pemerintah jilid XI yang akan diluncurkan pekan depan. Menurut analis PT Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto, pelaku pasar percaya bahwa paket kebijakan tersebut akan pro ke dunia .

“Pergerakan rupiah pada pekan ini akan cenderung stabil,” jelas Andri. “Apalagi, rupiah mendapat support dari tingginya angka capital flow di dalam negeri.”

Loading...