Rupiah Dibuka Melemah Tipis Imbas Sentimen Eropa

Penguatan rupiah yang terjadi pada perdagangan sebelumnya berpeluang tertahan pada sesi dagang Selasa (7/2) ini imbas sentimen dari Zona . Seperti diwartakan Index, Garuda mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.323 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.53 WIB, spot mampu naik sangat tipis 1 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.319 per dolar AS.

“Hari ini, penguatan rupiah bisa tertahan meski aliran dana masuk ke , mengikuti sentimen , bisa menjaga pasokan likuiditas dolar AS,” jelas Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Pasalnya, sentimen dari Eropa mendominasi ketika euro yang justru melemah di saat yield obligasi ‘pinggiran’ di Zona Eropa justru naik.”

Ditambahkan Rangga, pelemahan euro dipicu pencalonan Presiden Perancis oleh calon yang menginginkan disintegrasi dari Zona Euro. “Hal tersebut membuat dolar AS menguat tipis meski masih tertahan di bawah level 100,” sambung Rangga.

“Di samping itu, dari dalam negeri, data domestik yang bergerak lambat memang tidak membuat rupiah melemah pada sesi dagang kemarin karena terbawa sentimen pelemahan dolar AS yang merata di pasar Asia,” lanjut Rangga. “Namun demikian, perbaikan ekspor dan membuat optimisme pertumbuhan di tahun 2017 masih terjaga.”

Sementara itu, pendapat agak berbeda diungkapkan Analis Bank Permata, Josua Pardede, yang mengatakan bahwa indeks dolar AS masih tertekan data tenaga kerja Paman Sam yang kurang oke. Meski angka non-farm payroll membaik, tetapi rata-rata kenaikan upah per jam di AS turun, sedangkan tingkat pengangguran naik.

“Hal ini membuat pelaku pasar yakin kenaikan suku bunga The Fed tidak akan terjadi dalam waktu dekat dan membuat indeks dolar AS terpangkas,” kata Josua. “Hari ini, rupiah bisa bergerak menguat terbatas di rentang Rp13.300 hingga Rp13.380 per dolar AS.”

Loading...