Rupiah Berhasil Rebound 15 Poin Meski Dolar Sedang Menguat

Jakarta – Setelah berhari-hari tertekan oleh laju AS, akhirnya hari ini, Kamis (28/9) rupiah dibuka 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 13.430 per AS. Kemarin, Rabu (27/9) mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 71 poin atau 0,53 persen ke posisi Rp 13.445 per AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.368 hingga Rp 13.445 per AS.

Hingga Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS masih menguat terhadap mata uang utama lainnya. Di akhir the terpantau 0,44 persen menjadi 93,976 didorong oleh pernyataan dari Ketua Janet Yellen dan dukungan Amerika Serikat yang positif.

Seperti diketahui, pada Selasa (26/9) lalu Yellen menyatakan bahwa bank sentral akan memperketat kebijakan moneter AS secara bertahap terutama berkaitan dengan ketidakpastian di AS. Ini akan menjadi bijak untuk mempertahankan kebijakan moneter berlanjut hingga kembali ke level dua persen,” ujar Yellen kala itu, seperti dilansir Tempo.

“Yellen mendorong untuk terus memperketat tingkat AS kemarin, sekalipun dia mengakui kemungkinan ada sesuatu yang membawa inflasi lebih rendah dari perkiraan, yang hilang dari model Fed,” ungkap Chris Low, kepala ekonom FTN Financial.

Sementara itu, Departemen Perdagangan melaporkan pada Rabu (27/9) bahwa data ekonomi pesanan baru AS untuk barang manufaktur tahan lama periode Agustus 2017 meningkat 3,9 miliar dolar AS atau 1,7 persen menjadi 232,8 miliar dolar AS, berhasil mengalahkan perkiraan pasar.

Di sisi lain, meskipun hari ini diawali dengan penguatan, rupanya beberapa analis memprediksi jika rupiah akan melemah. Pasalnya, menurut Analis PT Soe Gee Futures Nizar Hilmy banyak sentimen positif yang lebih mendukung laju dolar AS di pasar spot, sehingga nantinya rupiah masih berpotensi untuk terkoreksi walaupun penurunannya tak akan sedalam kemarin (27/9).

“Membaiknya data ekonomi yang dirilis malam ini berpotensi menyokong sentimen bullish dollar Amerika Serikat. Sejauh ini pertumbuhan pesanan barang tahan lama berhasil melebihi ekspektasi pasar. Kalau sebelumnya hanya diperkirakan tumbuh 1%, ternyata hasilnya justru mencapai 1,7%,” kata Reny Eka Putri, analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk.

Loading...