Jumat Sore, Kurs Rupiah Naik Saat Dolar Defensif

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

JAKARTA – mampu bergerak lebih tinggi pada Jumat (21/8) sore, memanfaatkan gerak indeks dolar AS yang defensif seiring dengan klaim pengangguran AS yang dilaporkan kembali mengalami kenaikan. Menurut data Yahoo Finance pada pukul 15.27 WIB, Garuda menguat 12 poin atau 0,08% ke level Rp14.770 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup di posisi Rp14.782 per dolar AS.

“Rupiah punya kecenderungan untuk menguat pada akhir pekan. Penyebabnya adalah spot secara teknikal sudah cukup tertekan dalam dua minggu terakhir,” tutur Head of Economics Research, Pefindo, Fikri C. Permana, dilansir dari Kontan. “Di samping itu, data resesi 14 yang sudah terkonfirmasi, ditambah 13 yang mungkin menyusul, masih belum memasukkan nama . Sehingga, seharusnya secara fundamental dan rupiah dipandang cukup kuat, ini bisa menjadi katalis bagi rupiah.”

Lebih lanjut, Fikri menilai bahwa dengan semakin tingginya kekhawatiran akan resesi di negara-negara counterparty USD index, khususnya Uni Eropa dan Jepang, bisa membuat US Treasury dan indeks dolar AS tidak makin naik. Sehingga, ini bisa jadi hal yang baik bagi rupiah. Ia sendiri memprediksi mata uang Garuda bergerak dalam kisaran Rp14.650 hingga Rp14.850 per dolar AS.

Sementara itu, dari , dolar AS terpantau berada dalam posisi defensif terhadap sebagian besar mata uang pada hari Jumat, setelah kenaikan klaim pengangguran AS dan penurunan imbal hasil Treasury mengurangi daya tarik untuk memburu . Mata uang Paman Sam melemah 0,151 poin atau 0,16% ke level 92,642 pada pukul 11.19 WIB, namun bisa rebound 0,108 poin atau 0,12% ke posisi Rp92,910 pada pukul 15.18 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, kenaikan klaim pengangguran AS secara mingguan, yang lebih besar dari perkiraan, terjadi hanya satu hari setelah pejabat memperingatkan bahwa pemulihan perekrutan tenaga kerja mulai melambat, meningkatkan keraguan tentang seberapa cepat terbesar dunia akan bangkit kembali dari virus corona. Kekhawatiran tentang AS, dikombinasikan dengan kelebihan pasokan greenback karena pelonggaran kuantitatif besar-besaran , kemungkinan akan membebani mata uang AS dalam beberapa minggu mendatang.

“Sentimen untuk dolar AS masih lemah, mencerminkan semua QE dan penurunan imbal hasil AS yang sebenarnya,” kata pedagang kredit di Monex Securities, Tsutomu Soma. “Di sisi lain, euro bergerak lebih kuat karena Uni Eropa telah menempatkan stimulus yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, yang telah meningkatkan kepercayaan pada obligasi zona Eropa.”

Loading...