Rupiah Berakhir Positif Jelang Rilis Data Nonfarm Payroll AS

Laju indeks AS yang masih loyo jelang pengumuman laporan non-farm payroll Paman Sam mampu dimanfaatkan untuk kembali ditutup menguat pada Jumat (5/1) ini. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda berhasil menyelesaikan transaksi akhir pekan dengan penguatan sebesar 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.416 per .

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir naik 53 poin atau 0,39% di posisi Rp13.422 per dolar AS pada penutupan dagang Kamis (4/1) kemarin. Tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan mengalami apresiasi sebesar 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.417 per dolar AS saat membuka pasar. Sepanjang transaksi hari ini, spot mampu bertahan di zona hijau dari awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.405 per dolar AS, melonjak 69 poin atau 0,51% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.474 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,25% menghampiri ringgit Malaysia, disusul peso Filipina yang menguat 0,24%.

Dari pasar , laju dolar AS yang kendor mampu dimanfaatkan euro untuk ‘terbang’ ke level tertinggi terhadap greenback pada hari Jumat, disokong data ekonomi zona Eropa di akhir tahun 2017 yang menunjukkan pertumbuhan terkuat dalam hampir tujuh tahun. Mata uang Benua Biru terpantau stabil di level 1,2096 per dolar AS, setelah menguat 0,45% semalam.

Di lain sisi, indeks dolar AS berada pada penurunan 0,3% terhadap sekeranjang mata uang utama pada pekan ini, dengan diperkirakan berada di posisi 91,751, atau terendah dalam tiga bulan. Pelemahan mata uang Paman Sam ini terutama karena kegagalan memanfaatkan dukungan laporan yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Sebelumnya, menurut data ADP Research Institute, perusahaan AS menambahkan 250 ribu di bulan Desember kemarin, kenaikan terbesar sejak Maret 2017.

Pasar saat ini fokus pada laporan non-farm payroll AS yang dirilis hari ini waktu setempat, dan diharapkan dapat menunjukkan keuntungan pekerjaan sebesar 190.000 untuk bulan Desember. Dengan kinerja greenback yang buruk, pelaku pasar memperkirakan kenaikan lapangan kerja yang lebih kuat dapat membalikkan pergerakan mata uang tersebut.

“Ini adalah tema yang sama dari 2017 yang melukai dolar AS, yang berasal dari kekhawatiran yang rendah, yang pada gilirannya telah membatasi imbal hasil ,” kata analis FX senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa, seperti dikutip Reuters. “Euro, di sisi lain, sedang bergairah. Kami melihat angka HICP zona Eropa keluar hari ini dan jika itu terbukti kuat, bisa mengimbangi laporan pekerjaan AS.”

Loading...