Tertekan Virus Corona China, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - eljohnnews.comRupiah - eljohnnews.com

JAKARTA – praktis tidak memiliki tenaga untuk bergerak ke teritori hijau pada Selasa (21/1) sore, ketika kekhawatiran atas penyebaran virus Corona asal menekan sentimen berisiko. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,22% ke level Rp13.669 per AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan berada di posisi Rp13.658 per dolar AS, terdepresiasi 4 poin atau 0,03% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.654 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia tunduk terhadap , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,66% menghampiri won Korea Selatan.

Dilansir Reuters, saham dan mata uang Benua Kuning harus bergerak lebih rendah pada hari ini, imbas kekhawatiran atas penyebaran virus corona di China yang menekan sentimen risiko. Wabah virus yang berasal dari Negeri Tirai Bambu tengah memasuki fase baru setelah banyak pekerja medis dilaporkan telah terinfeksi dan kematian bertambah menjadi empat orang.

Aset safe haven, seperti yen Jepang, serta-merta diminati karena investor diingatkan akan kerusakan yang disebabkan oleh virus SARS pada tahun 2003 silam, khususnya mengingat ancaman penularan ketika ratusan juta orang bepergian untuk liburan Tahun Baru Imlek. Namun, mata uang Negeri Sakura ternyata cuma mengalami sedikit perubahan terhadap greenback, karena investor sedang menantikan pertemuan Bank of Japan.

Bank of Japan adalah bank sentral global yang menggelar meeting perdana, dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Bank sentral tersebut diperkirakan akan mempertahankan kebijakannya, dengan para pedagang fokus pada komentar dari Gubernur Haruhiko Kuroda untuk mengukur tingkat dan prospek ekonomi setelah berakhirnya kesepakatan perdagangan AS-China awal pekan lalu.

“Dana Moneter Internasional telah merevisi perkiraan ekonomi Jepang karena stimulus pemerintah, dan dolar AS terhadap yen cenderung naik lebih tinggi karena pasar ekuitas menunjukkan perdagangan berisiko,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Sementara, ekonomi zona Eropa telah mencapai titik terendah, dan ECB (European Central Bank) sedang menunggu tanda-tanda bahwa ekonomi mulai membaik, sehingga pemulihan dalam euro kemungkinan akan tertunda.”

Loading...