Rupiah Berakhir Naik Tipis Ketika Dolar Membukukan Rebound

rupiah menguat

Setelah sempat terseret ke zona merah pada pertengahan akibat penguatan yang dialami dolar AS, rupiah akhirnya mampu bangkit di detik-detik akhir transaksi. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menutup Senin (20/11) ini dengan penguatan tipis sebesar 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.529 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 8 poin atau 0,06% di posisi Rp13.531 per dolar AS pada akhir dagang Jumat (17/11) lalu. Kemudian, tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka naik 14 poin atau 0,10% ke level Rp13.517 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergulir di kisaran Rp13.508 hingga Rp13.542 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS berhasil membukukan pada hari ini ketika kinerja melemah setelah upaya Kanselir Jerman, Angela Merkel, untuk membentuk pemerintahan koalisi tiga arah gagal. Mata uang Paman Sam terpantau melonjak 0,338 poin atau 0,36% ke level 94,000 pada pukul 09.43 WIB, setelah akhir pekan kemarin ditutup melemah 0,29% di posisi 93,662.

Reuters mengabarkan, Angela Merkel gagal membentuk pemerintahan koalisi tiga arah, dengan Partai Hijau dan Partai Demokrat Bebas (FDP), sehingga meningkatkan kekhawatiran seputar ketidakpastian politik di negara dengan kekuatan terbesar di Benua Biru tersebut. Merkel dilaporkan akan bertemu Presiden Jerman untuk menginformasikan kegagalan membentuk koalisi tersebut.

Euro pun langsung tergelincir pada perdagangan di Asia pagi tadi, setelah kabar mengenai kegagalan pembentukan koalisi di antara partai Jerman didengar pasar. Mata uang tersebut terpantau melemah 0,47% menuju 1,1734 dolar AS pada pukul 09.54 WIB, setelah sebelumnya sempat berakhir dengan penguatan sebesar 0,17% di posisi 1,1790 dolar AS.

“Saya rasa hal ini tidak akan menjadi pendorong utama, meski memang memengaruhi keadaan. Untuk jangka waktu yang lama, pendorong utama euro adalah langkah ECB (European Central Bank),” kata kepada perdagangan di Asia Pasifik untuk OANDA, Stephen Innes. “Penguatan euro sebelumnya didukung kekuatan dari zona Eropa serta spekulasi bahwa ECB dapat mulai terlihat lebih hawkish dalam hal prospek kebijakan moneter.”

Sementara itu, siang tadi mematok tengah berada di posisi Rp13.529 per dolar AS, terdepresiasi 12 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.517 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,27% menghampiri won Korea Selatan.

Loading...