Tepis Keraguan, Rupiah Berakhir Hijau di Selasa Sore

Rupiah - www.sindonews.comRupiah - www.sindonews.com

JAKARTA – ternyata mampu menepis keraguan banyak kalangan ketika berhasil naik ke area hijau pada perdagangan Selasa (10/3) sore di tengah penyebaran virus yang semakin meluas, termasuk di Indonesia. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, spot menguat 41 poin atau 0,28% ke level Rp14.352 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.411 per dolar AS, terdepresiasi 69 poin atau 0,48% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.342 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mampu mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,46% menghampiri won Korea Selatan, disusul dolar Taiwan yang melonjak 0,33%.

Walau menguat, para analis masih melihat posisi rupiah yang rentan. Salah satu sentimen negatif yang bisa memukul rupiah lebih dalam adalah proyeksi defisit anggaran yang meluas serta kasus virus corona. Di Indonesia, hingga Senin (9/3) kemarin, kasus virus corona yang sudah dikonfirmasi mencapai 19 orang, bertambah 13 orang.

Dari , indeks dolar AS sedikit pulih pada hari Selasa dari kerugian besar terhadap yen, euro, dan franc Swiss, didukung harapan untuk stimulus ekonomi AS dan bouncing dalam imbal hasil Treasury. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0.754 poin atau 0,79% ke level 95,649 pada pukul 11.37 WIB, setelah kemarin harus berakhir melemah 1,10% di posisi 94,895.

Seperti diberitakan Reuters, greenback mulai bergerak lebih tinggi karena saham berjangka AS naik setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa Gedung Putih akan mengadakan konferensi pers tentang langkah-langkah ekonomi dalam menanggapi wabah coronavirus. Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin, juga menuturkan bakal mengadakan pertemuan dengan para eksekutif bank sebagai tanda pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah lebih untuk melunakkan dampak virus.

minyak berjangka yang naik di Asia menandakan pasar keuangan berusaha untuk mendapatkan kembali ketenangan. Meski demikian, banyak pedagang memperingatkan bahwa gejolak baru-baru ini begitu dramatis sehingga risiko masih miring ke bawah. “Harapan untuk respons kebijakan terkoordinasi adalah sesuatu yang berkembang dan pada akhirnya ini bisa membantu,” kata ahli strategi senior FX di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril.

Loading...