Rupiah Berakhir Menguat Jelang Risalah The Fed

Jelang risalah rapat kebijakan The Fed, rupiah mampu melanjutkan tren pada Rabu (3/1) ini ketika indeks AS masih betah berkutat di level terendah. Menurut Index pukul 15.59 WIB, NKRI berhasil mengakhiri hari ini dengan penguatan sebesar 39 poin atau 0,29% ke level Rp13.475 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup melonjak 41 poin atau 0,30% di posisi Rp13.514 per dolar AS pada akhir dagang Selasa (2/1) kemarin. Tren positif mata uang Garuda berlanjut pagi tadi dengan menguat 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.495 per dolar AS ketika membuka . Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis bergulir nyaman di zona hijau dari awal hingga akhir dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.498 per dolar AS, mengalami kenaikan sebesar 44 poin atau 0,32% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.542 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia justru bergerak loyo terhadap , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,48% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS masih berkutat di level terendah ketika pasar menantikan risalah kebijakan rapat The Fed pada Rabu waktu setempat, sedangkan euro melemah di tengah optimisme bahwa European Central Bank (ECB) akan mengurangi stimulus pembelian pada tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau berada di posisi 91,902 terhadap sekeranjang mata uang utama, sedangkan euro tergelincir 0,1% ke level 1,2048 per dolar AS.

Saat ini, fokus investor memang tertuju pada risalah rapat kebijakan Federal Reserve di bulan Desember kemarin, saat mereka menaikkan untuk ketiga kalinya pada 2017. Isyarat lebih lanjut kemungkinan berasal dari data ekonomi AS pada minggu ini, termasuk rilis laporan angka pekerjaan yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat (5/2) waktu setempat.

Sebelumnya, imbal hasil obligasi AS berada di level 2,465% pada penutupan perdagangan kemarin, masih di bawah level tertinggi sembilan bulan di 2,504% pada 21 Desember. Risalah The Fed dan laporan data pekerjaan diprediksi akan mendorong yield obligasi AS kembali naik. “Satu kunci adalah apakah risalah The Fed dan data pekerjaan AS akan mendorong yield obligasi naik dengan jelas di atas 2,5%,” kata analis Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ di Singapura, Teppei Ino.

Loading...