Risiko Proteksionisme Trump Surut, Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Berlanjut

Proteksionisme - asia.nikkei.com

di kawasan dan India pada tahun 2017 dan seterusnya diperkirakan terus berlanjut seiring dengan menurunnya risiko terkait kebijakan proteksionisme Presiden AS, Donald Trump. Meski demikian, risiko dan bahaya bisa menjadi pengganjal laju kemajuan ekonomi di ini.

Japan Center for Economic Research (JCER) dan baru saja melakukan survei konsensus triwulan mulai tanggal 9 sampai 30 Juni lalu dengan mengumpulkan 58 jawaban dari para ekonom dan di lima terbesar ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) dan India. Rata-rata pertumbuhan di ASEAN5 direvisi naik 0,1 poin menjadi 4,6 persen, sedangkan di India diperkirakan tumbuh lebih dari 7 persen sampai 2019-2020 mendatang.

“Sebelumnya, pertumbuhan keseluruhan pada kuartal pertama terangkat oleh ekspor yang kuat, baik dari produk maupun produk lainnya,” kata kata Lim Chee Sing dari RHB Research Institute di Malaysia. ”Kenaikan ekspor ini telah melonjak dan juga mengangkat permintaan dari dalam negeri.”

Di Indonesia, tingkat pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,2 persen pada tahun 2017, naik dari 5,0 persen di tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi swasta, belanja pemerintah, dan investasi akan lebih solid, demikian menurut ekonom dari Bank Mandiri, Dendi Ramdani. Sementara, pertumbuhan ekonomi di Filipina justru direvisi turun karena penundaan investasi infrastruktur, namun tetap di angka 6,4 persen, lebih tinggi dari negara utama ASEAN lainnya.

Prospek pertumbuhan untuk India jauh lebih kuat. Para ekonom memperkirakan bahwa ekonomi negara akan tumbuh lebih dari 7 persen sampai 2019-2020 meski terjadi kebingungan jangka pendek setelah demonetisasi pada bulan November 2016 dan pengenalan Pajak Barang dan Jasa pada bulan Juli. “Perekonomian India tetap dalam pemulihan berbasis konsumsi,” kata Tirthankar Patnaik dari Mizuho Bank.

Pandangan ekonom mengenai risiko telah berubah secara signifikan dalam tiga bulan terakhir. Sebelumnya, risiko yang terkait dengan Trump, seperti ‘bangkitnya proteksionisme’ menjadi perhatian utama. ‘Kebangkitan proteksionisme’ dianggap sebagai risiko terbesar di Singapura dan Thailand dan risiko terbesar ketiga di India dan Filipina pada survei bulan Maret. Sementara, gejolak keuangan yang dipicu oleh kebijakan Presiden Trump merupakan risiko terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di Thailand.

Meski risiko ini masih ada dalam prediksi ekonom, namun kekhawatirannya sedikit berkurang. Pasalnya, tindakan kebijakan ekonomi AS dari kabinet Trump dinilai jauh lebih lambat dari perkiraan. Para ekonom sekarang menemukan kekhawatiran yang lebih luas, termasuk bahaya terorisme dan juga perlambatan ekonomi di China.

Risiko terorisme dan risiko geopolitik menduduki peringkat kedua tertinggi di Filipina, untuk pertama kalinya sejak survei dilakukan pada bulan September 2016. Ekonom menitikberatkan pada kondisi di Mindanao, ketika Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer pada bulan Mei di tengah meningkatnya konflik antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak. Sementara, perlambatan ekonomi China merupakan salah satu dari tiga risiko terbesar bagi Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.