Risalah The Fed Sokong Dolar, Rupiah Bertahan di Zona Hijau

Rupiah tetap mampu melanjutkan tren penguatan pada Kamis (4/1) ini ketika mayoritas Asia justru bergerak loyo, imbas hasil risalah rapat . Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata Garuda menyelesaikan transaksi dengan penguatan sebesar 53 poin atau 0,39% ke level Rp13.422 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup naik 39 poin atau 0,29% di posisi Rp13.475 per dolar AS pada akhir dagang Rabu (3/1) kemarin. Tren positif mata uang NKRI berlanjut tadi pagi dengan menguat 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.467 per dolar AS ketika membuka pasar. Sepanjang transaksi hari ini, spot mampu mempertahankan posisi di zona hijau dari awal hingga akhir dagang.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya berhasil naik, didorong data manufaktur dan konstruksi Paman Sam yang membaik, serta hasil risalah Federal Reserve yang menunjukkan bahwa sentral tersebut tetap berada di jalur untuk menaikkan suku beberapa kali tahun ini. Pada akhir perdagangan Rabu kemarin, dilaporkan menguat 0,3% ke posisi 92,18 setelah sebelumnya telah melemah sebesar 2,5% dalam tiga minggu terakhir.

Reuters melaporkan, risalah rapat The Fed mengakui penguatan yang solid dalam pasar tenaga kerja AS dan ekspansi dalam aktivitas ekonomi, meski tetap terdapat kekhawatiran di antara pembuat kebijakan tentang inflasi yang masih rendah. Bank sentral tersebut juga akan melakukan pendekatan bertahap dalam menaikkan , namun bisa dipercepat jika laju inflasi meningkat.

“Perdebatannya sama. Anda memandang pertumbuhan yang kuat dan tingkat pengangguran yang rendah di satu sisi dan inflasi yang sangat rendah di sisi yang lain,” ujar kepala ekonom di Amherst Pierpont Securities di Stamford, Connecticut, Stephen Stanley. “Mereka telah menempuh jalan tengah menuju pendekatan kebijakan mereka, secara bertahap menaikkan suku bunga dan mengurangi neraca keuangan.”

Pada saat yang sama, indeks manufaktur AS oleh Institute for Supply Management naik menjadi 59,7 pada bulan Desember kemarin, sekaligus melampaui ekspektasi pasar. Meski demikian, analis masih tetap skeptis terhadap prospek jangka pendek untuk greenback, mengingat kenaikan suku bunga telah banyak diantisipasi oleh para investor.

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp13.474 per dolar AS, mengalami apresiasi sebesar 24 poin atau 0,18% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.498 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia justru tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,19% menghampiri peso Filipina.

Loading...