Risalah FOMC Bikin Dolar Drop, Rupiah Berakhir Pekan di Zona Hijau

Laju yang gagal menghindari tekanan usai risalah meeting mampu dimanfaatkan mayoritas untuk melaju di zona hijau, termasuk . Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menutup akhir pekan (24/2) ini dengan penguatan sebesar 20 poin atau 0,15% ke level Rp13.331 per AS.

Rupiah memulai perdagangan dengan dibuka naik 16 poin atau 0,12% ke posisi Rp13.335 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali menguat 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.332 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.25 WIB, spot masih bertahan di zona hijau usai menguat 17 poin atau 0,13% ke posisi Rp13.334 per dolar AS.

Hari ini, indeks dolar AS memang cenderung bergerak menurun meski sempat dibuka di zona hijau. The greenback melemah 0,060 poin atau 0,06% ke level 100,990 pada pukul 13.11 WIB setelah sebelumnya naik ke posisi 101,060 pada pukul 09.57 WIB. Dolar AS gagal menghindari tekanan usai pengumuman risalah FOMC meeting pada Rabu waktu setempat yang menunjukkan nada lebih dovish dari harapan para pelaku pasar.

“Pelaku pasar masih mencermati notulensi FOMC untuk pertemuan Januari,” jelas Chief Investment Officer for The Private Client Group U.S. Bank di Helena, Montana, Bill Northey. “Sepertinya ada dua kubu berbeda dalam penafsiran risalah rapat tersebut, entah itu nada yang lebih hawkish atau dovish, dan tampaknya kubu dovish lebih dominan.”

Pernyataan AS, Steven Mnuchin, juga turut membebani pergerakan dolar AS, terutama terkait tentang pemangkasan pajak. “Sudah satu bulan sejak Trump menjadi Presiden AS dan kita masih menunggu untuk melihat apa yang ia dapat lakukan, khususnya terhadap reformasi pajak. Sementara itu, tidak ada seorang pun ingin membeli dolar, hal itu bergantung pada suku bunga AS yang masih rendah,” timpal Director Global-info Co., Kaneo Ogino.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah di posisi Rp13.336 per dolar AS, melonjak 24 poin atau 0,17% dibandingkan perdagangan sebelumnya di Rp13.360 per dolar AS. Di saat yang sama, mayoritas mata uang Asia bergerak menguat terhadap the greenback dengan penguatan tertinggi dialami won Korea Selatan sebesar 0,79% dan dolar Taiwan sebesar 0,27%.

Loading...