Rilis Non-Farm Payroll AS Beragam, Rupiah Melemah di Awal Pekan

non-farm payroll AS yang menunjukkan kenaikan upah memang mampu menopang laju pada pembukaan sesi dagang awal pekan ini (9/1) sekaligus melemahkan . Namun, Garuda dinilai masih memiliki potensi untuk berbalik rebound seiring data tingkat AS yang naik serta pengumuman Indonesia di akhir tahun 2016.

Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan 17 poin atau 0,13% ke level Rp13.388 per AS. Kemudian, pada pukul 09.09 WIB, spot berbalik menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke Rp13.370 per AS. Sementara itu, AS dibuka menguat tipis 0,030 poin atau 0,03% ke posisi 102,250.

Akhir pekan kemarin, laporan non-farm payroll AS untuk bulan Desember 2016 menunjukkan hasil beragam dengan perlambatan kepegawaian, namun ada kenaikan pada upah. Hal tersebut mendorong harapan kenaikan lebih lanjut oleh pada tahun ini serta rebound indeks dolar AS.

Meski demikian, naiknya tingkat pengangguran AS dari 4,6% menjadi 4,7% akan memengaruhi kebijakan Bank Sentral AS. Secara keseluruhan, penurunan non-farm payroll dan factory orders berpotensi melemahkan laju indeks dolar AS sehingga rupiah masih memiliki peluang untuk bergerak menguat.

“Diharapkan, dengan adanya laporan kenaikan defisit neraca perdagangan AS yang diikuti dengan penurunan nonfarm payrolls dan factory orders dapat melemahkan laju dolar AS, sehingga rupiah masih dapat menguat,” ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada. “Rupiah kemungkinan bergerak di kisaran support Rp13.400 per dolar AS dan resistance Rp13.280 per dolar AS.”

Sementara itu, Research and Analyst Garuda Berjangka, Sri Wahyudi, menambahkan bahwa kurs rupiah juga akan ditopang pengumuman cadangan devisa Indonesia akhir tahun 2016, yang jika masih berada di atas 100 miliar dolar AS, akan tetap positif bagi mata uang domestik. “Rupiah akan menguat tipis di kisaran Rp13.250 hingga Rp13.450 per dolar AS,” kata Wahyudi.

Loading...