Reformasi Struktural, Tiga Skenario untuk Ekonomi Global

Reformasi Struktural - ekbis.sindonews.com

Selama beberapa tahun terakhir, telah berosilasi antara percepatan (saat dan menguat) dengan periode perlambatan (ketika positif namun melemah). Untuk tiga tahun ke depan, setidaknya ada tiga skenario yang mungkin terjadi untuk dunia, salah satunya penerapan reformasi struktural di empat negara dengan terbesar di dunia atau sebaliknya.

“Dalam skenario bullish, empat ekonomi terbesar, China, zona Eropa, Jepang, dan AS, menerapkan reformasi struktural guna meningkatkan potensi pertumbuhan dan mengatasi kerentanan finansial,” ulas Chairman Roubini Macro Associates, Nouriel Roubini, seperti dikutip Nikkei. “Dengan memastikan bahwa kemajuan siklis dikaitkan dengan potensi pertumbuhan aktual, upaya semacam itu akan menghasilkan pertumbuhan PDB yang kuat, yang rendah namun beranjak naik, dan stabilitas yang relatif tinggi selama bertahun-tahun.”

Pria yang juga menjabat sebagai Profesor Ekonomi di Stern School of Business, New York University tersebut melanjutkan, sementara dalam skenario bearish, ekonomi utama dunia gagal menerapkan reformasi struktural yang mendorong pertumbuhan potensial. Alih-alih menggunakan Kongres Nasional di Partai Komunis, China melanjutkan jalur leverage dan kelebihan kapasitas.

“Sementara, zona Eropa gagal mencapai integrasi yang lebih besar, dengan kendala politik membatasi kemampuan pembuat kebijakan nasional untuk menerapkan reformasi struktural,” sambungnya. “Jepang tetap terjebak dalam lintasan pertumbuhan rendahnya, sedangkan AS terus mengejar kebijakan, termasuk pemotongan pajak, yang mungkin dapat mengurangi potensi pertumbuhan.”

Dalam skenario ini, Roubini mengatakan bahwa kurangnya reformasi di negara-negara besar akan meninggalkan kemajuan siklis yang terkendala oleh tren pertumbuhan yang rendah. Jika pertumbuhan potensial tetap rendah, kebijakan moneter dan kredit yang mudah pada akhirnya dapat menyebabkan inflasi barang dan/atau aset, yang pada akhirnya menyebabkan perlambatan ekonomi, dan mungkin juga terjadi resesi dan krisis keuangan, ketika gelembung aset meledak atau inflasi naik.

“Yang ketiga, dan menurut saya, kemungkinan besar skenario terletak di antara dua yang pertama. Kemajuan siklis, baik di pertumbuhan dan ekuitas, berlanjut untuk sementara, didorong oleh sisa tailwinds,” imbuh Roubini. “Namun, sementara ekonomi utama mengejar beberapa reformasi struktural untuk meningkatkan pertumbuhan potensial, laju perubahan jauh lebih lambat, dan ruang lingkupnya lebih rendah daripada yang dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi.”

Di China, skenario yang kacau ini berarti melakukan cukup untuk menghindari ‘pukulan’ keras. Dengan kerentanan finansial yang tidak terselesaikan, tekanan menjadi tidak dapat dihindari seiring bergulirnya waktu. Di zona Eropa, skenario ini hanya memerlukan kemajuan menuju integrasi yang lebih besar. Sementara, di Jepang, Abe yang semakin tidak efektif akan menerapkan reformasi minimal, sehingga potensi pertumbuhan terjebak di bawah 1 persen.

“Di AS, pemerintahan Donald Trump akan tetap tidak stabil dan tidak efektif, dengan semakin banyaknya orang Amerika menyadari bahwa Trump hanyalah seorang plutokrat yang melindungi kepentingan orang kaya,” lanjut Roubini. “Ketidaksamaan meningkat, kelas menengah stagnan, upah hampir tidak tumbuh, dan dan pertumbuhan tetap tidak mendekati 2 persen.”

Loading...