Putusan BOJ Tekan Dolar, Rupiah Justru KO di Akhir Dagang

Setelah bergerak , harus mengakhiri Selasa (9/1) ini di zona merah meski indeks AS tertekan penguatan yen imbas kebijakan yang dicetuskan Bank of Japan. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI menyelesaikan hari ini dengan pelemahan sebesar 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.438 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup turun 13 poin atau 0,10% di posisi Rp13.429 per dolar AS pada akhir dagang Senin (8/1) kemarin. Mata uang Garuda kemudian sempat rebound tipis sebesar 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.428 per dolar AS pada awal dagang pagi tadi. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergerak cukup fluktuatif sebelum akhirnya berakhir di teritori merah.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp13.428 per dolar AS, terdepresiasi 31 poin atau 0,23% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.397 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,09% menghampiri peso Filipina, disusul ringgit Malaysia yang drop 0,07%.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya mengalami koreksi tipis, seiring rebound yang dibukukan mata uang yen usai Bank of Japan (BOJ) mengurangi pembelian obligasi pemerintah Jepang dalam operasi pasar. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,088 poin atau 0,10% ke level 92,270 pada pukul 10.37 WIB, setelah kemarin berakhir menguat 0,409 poin atau 0,44% di posisi 92,358.

Reuters memberitakan, Bank of Japan memutuskan untuk memangkas jumlah pembelian obligasi pemerintah Negeri Sakura yang berjangka waktu jatuh tempo 10 sampai 25 tahun serta jatuh tempo 25 sampai 40 tahun, masing-masing sebesar 10 miliar yen. Pejabat Bank of Japan mengatakan kebijakan ini dimaksudkan untuk menjaga agar imbal hasil obligasi sesuai dengan tujuan dan bukan sebagai petunjuk mengenai kebijakan masa depannya.

“Operasi BOJ merupakan pemicu kenaikan yen, meski saya menduga ada juga arus masuk Tahun Baru, mengingat hari ini adalah hari dimulainya aktivitas bisnis bagi kebanyakan pelaku pasar,” papar chief Japan FX/equity strategist di Bank of America Merrill Lynch, Shusuke Yamada. “Saya pikir, masih terlalu dini bagi BOJ untuk mengklarifikasi pendiriannya atas langkah keluar dari kebijakan saat ini.”

Share this post

PinIt
Loading...
scroll to top