PSBB Jakarta Relatif Longgar, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (14/9) sore - bisnis.com

Sempat berkubang di area merah, rupiah ternyata mampu menutup Senin (14/9) sore di zona hijau ketika kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI Jakarta ternyata tidak seketat yang dibayangkan sebelumnya. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.880 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia jam 10.00 WIB menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.974 per dolar AS, menguat tipis 5 poin atau 0,03% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.979 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, rupiah sempat berbalik melemah 40 poin atau 0,27% menuju posisi Rp14.930 per dolar AS.

Ketika mata uang domestik terpuruk, mayoritas mata uang di Benua justru terpantau mampu mengungguli greenback. Kenaikan tertinggi sebesar 0,37% dialami won Korea Selatan, dibuntuti dolar Singapura, peso Philipina, dan dolar Taiwan. Sementara, selain rupiah, pelemahan hanya menghampiri rupee India.

Seperti dilaporkan oleh Reuters, rupiah, yang menopang salah satu paling besar di Asia dan populer di kalangan investor asing, telah berada di bawah tekanan selama dua minggu terakhir, merosot 0,1% saat obligasi imbal hasil 3 tahun turun lebih dari 27 basis poin menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Ketakutan mengenai perubahan kebijakan pada Bank Indonesia, yang membuatnya lebih rentan terhadap campur tangan pemerintah, telah menjadi inti masalah baru-baru ini.

Berbanding terbalik dengan rupiah, saham Indonesia naik lebih dari 2% pada hari Senin setelah penerapan PSBB di kawasan DKI Jakarta ternyata tidak separah yang dibayangkan. Uraian rincian PSBB di Jakarta meredakan kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut mungkin dapat merusak , dengan sejumlah pasar dan pusat perbelanjaan tetap buka dalam beberapa batasan.

“Persyaratan PSBB tampak kurang ketat dari yang diantisipasi pasar saat pertama kali diumumkan,” tutur kata kepala penelitian Morgan Stanley’s untuk Indonesia, Mulya Chandra. “Ini bisa mendorong pasar untuk menutup kerugian pada minggu lalu, yang dikaitkan dengan ketakutan akan protokol lockdown yang lebih ketat.”

Loading...