Proyeksi Kenaikan Suku Bunga AS Berlanjut, Rupiah Dibuka Melemah

ternyata tidak mampu mempertahankan tren positif pada awal Selasa (17/10) ini setelah The Fed menuturkan optimisme mengenai kenaikan lanjutan. Seperti dilaporkan Index, Garuda mengawali hari ini dengan melemah 13 poin atau 0,10% ke level Rp13.489 per AS. Sebelumnya, spot mampu ditutup menguat 22 poin atau 0,16% di posisi Rp13.476 pada perdagangan Senin (16/10) kemarin.

Gubernur The Fed, Janet Yellen, dalam pidatonya baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut secara bertahap masih memungkinkan di tengah pertumbuhan AS yang solid, bahkan ketika angka inflasi masih sangat rendah. Selain itu, kandidat Gubernur , John Taylor, yang cenderung menganjurkan suku bunga lebih tinggi, juga telah memberi kesan yang baik kepada Presiden Donald Trump.

juga harus mencermati beberapa rilis data ekonomi oleh pemerintah AS,” ujar Research & Analyst Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto.  “Di samping itu, pidato dari sejumlah pejabat The Fed juga perlu diperhatikan pengaruhnya terhadap pergerakan mata uang Garuda.  Namun, dengan kondisi ekonomi domestik yang baik, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan.”

Pada perdagangan Senin kemarin, mata uang NKRI mampu ‘mengangkangi’ greenback, salah satunya ditopang rilis neraca perdagangan dalam negeri bulan September 2017 yang mencatat surplus sebesar 1,76 miliar dolar AS. Angka ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,72 miliar dolar AS, serta lebih besar dari prediksi ekonom yang memperkirakan di angka 1,2 miliar dolar AS hingga 1,4 miliar dolar AS.

“Penguatan rupiah sebelumnya juga disokong oleh rilis data perdagangan China yang menunjukkan hasil positif, dengan kenaikan impor Negeri Tirai Bambu yang didominasi oleh komoditas, sehingga berdampak positif pada mata uang berbasis komoditas, termasuk rupiah,” sambung Andri. “ minyak mentah dunia yang berangsur naik sejak Jumat (13/10) juga menjadi faktor lain yang membuat rupiah unggul.”

Loading...