Proyek MRT dan LRT ‘Undang’ Pembangunan Properti di Pinggiran Jakarta

Proyek MRT - inapex.co.idProyek MRT - inapex.co.id

Proyek Mass Rapid Transit (MRT), yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2019, diharapkan dapat memangkas waktu perjalanan masyarakat di sekitar Jakarta yang ingin bepergian ke ibukota atau sebaliknya. Nah, seiring dengan proyek ini, dan juga nantinya LRT (Light Rail Transit), pemukiman di pinggiran Jakarta pun berpotensi menumpuk dengan beberapa developer mulai membangun properti dan komersial.

Nikkei melaporkan, yang bakal disinggahi MRT dan LRT telah menjadi ‘target panas’ bagi pengembang properti. Di Simatupang misalnya, yang berjarak sekitar 15 km di selatan jantung ibukota, telah mengundang pengembang real estate asal Jepang, Tokyu Lan, untuk membangun kondominium mewah. Diharapkan selesai tahun ini, kompleks Branz Simatupang tersebut akan terdiri dari dua menara dengan 381 unit dan berbagai fasilitas komersial.

Kompleks ini nantinya hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari stasiun MRT, yang diperkirakan akan dibuka pada bulan Maret 2019. Semua unit di menara selatan saat ini telah terjual, dengan pembeli tampaknya mayoritas berasal dari perbankan dengan permintaan sewa yang kuat di kalangan pekerja ekspatriat, yang cenderung menginginkan sebuah perjalanan singkat ke ibukota.

PT MRT Jakarta, perusahaan yang menangani proyek tersebut, telah mengantisipasi rata-rata sebesar Rp15 triliun (setara 1,12 miliar dolar AS) dari pengembangan perumahan dan komersial di sekitar masing-masing dari 13 stasiun yang diperkirakan akan dioperasikan pada tahun 2019. Ada juga rencana untuk menghubungkan stasiun MRT secara langsung dengan pusat perbelanjaan.

Sementara itu, PT Adhi Karya, sebuah perusahaan konstruksi milik negara, telah meluncurkan sebuah proyek besar yang disebut sebagai LRT City. Proyek ini nantinya direncanakan memiliki 12 menara kondominium, , dan kantor yang tersebar di lahan seluas 15 hektar di kawasan Bogor. Kampanye pemasaran perusahaan mempromosikan lingkungan Bogor sebagai tempat untuk menjalani ‘smart green life’.

Bogor sendiri merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang memiliki jarak sekitar 40 km dari pusat Jakarta. Meski kedua kota bisa ditempuh dalam waktu normal satu jam berkendara, namun jam sibuk di Jakarta dan lalu lintas yang macet di akhir pekan telah membuat perjalanan dari Bogor ke Jakarta menjadi tidak realistis. Tetapi, dengan LRT, semuanya bisa berubah, dan Terminal Bogor, inti proyek, dijadwalkan beroperasi sekitar tahun 2020-an.

Untuk saat ini, jaringan transportasi umum yang terbelakang di Indonesia memaksa kebanyakan penumpang atau pekerja untuk mengandalkan bus kecil dan ojek. Cara yang lebih efisien untuk bekerja dapat menghasilkan keuntungan produktivitas yang besar. Tetapi ada halangan, kemungkinan penundaan pembangunan kereta. Kekurangan dana LRT baru-baru ini terungkap dan MRT juga menghadapi beberapa ketidakpastian. Meski 90 persen pekerjaan telah diselesaikan di MRT utara-selatan, pembebasan lahan di sekitar beberapa stasiun belum bisa dilakukan.

Loading...