Proyek Listrik di Indonesia Merugi, Mitsui E&S Jual Aset Perusahaan

Mitsui E&S Holdings - www.mes.co.jpMitsui E&S Holdings - www.mes.co.jp

TOKYO/ Perusahaan asal Jepang, Mitsui E&S Holdings, mengumumkan telah menjual sekitar 100 miliar yen (930 juta ) operasi dan aset mereka, dalam untuk menopang keuangan yang terkikis oleh pembangkit listrik Indonesia yang merugi. Kesepakatan itu merupakan bagian dari rencana perubahan haluan yang dibuat awal Mei lalu oleh pembuat kapal dan pabrik Jepang di tengah prospek yang suram lantaran pandemi virus corona.

Seperti dilansir Nikkei, perusahaan telah menderita kerugian lebih dari 150 miliar yen dalam proyek pembangkit listrik tenaga batu bara, meninggalkan laba jauh di angka merah. Sementara itu, proyek pembuatan kapal andalannya diperkirakan akan mengalami kerugian operasi untuk tahun keenam berturut-turut pada tahun fiskal 2020.

Pada bulan April lalu, Mitsui E&S juga telah mengatur penjualan anak perusahaan, Showa Aircraft Industry dan Mitsui E&S Engineering Plant serta bisnis tenaga surya, di antara aset lainnya. Hasil dari kesepakatan melebihi target awal 70 miliar yen, demikian ujar CEO grup, Ryoichi Oka, dalam sebuah pendapatan baru-baru ini.

Perusahaan berencana untuk mengambil langkah lebih lanjut guna memperkuat kesehatan keuangannya, termasuk menjual sebagian sahamnya di perusahaan rekayasa infrastruktur. Namun, masalah dengan proyek Indonesia sedang diperparah oleh pandemi coronavirus. Beberapa pekerja di situs tersebut dinyatakan positif terkena virus pada akhir Maret, dan pekerjaan ditunda pada bulan April. “Jika kita dapat memulai kembali pada bulan November, kita tetap akan merugi,” kata Oka.

Wabah COVID-19 juga menimbulkan risiko lain. Unit Mitsui E&S, Modec, dapat dipaksa untuk menangguhkan konstruksi mengambang, platform penyimpanan dan pembongkaran, atau FPSO misalnya. Penurunan minyak mentah baru-baru ini juga dapat membebani pesanan karena perusahaan minyak memikirkan kembali rencana mereka.

Mitsui E&S melaporkan kerugian bersih 86,2 miliar yen untuk tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret kemarin, lebih besar dari kerugian 69,6 miliar yen pada tahun sebelumnya. Mereka mengharapkan dapat mencapai titik impas pada tahun fiskal 2020. Buku pesanan perusahaan mencapai rekor 1,82 triliun yen pada akhir tahun fiskal 2019, berkat permintaan FPSO yang cepat di berkembang. Namun, banyak yang akan tergantung pada efek pandemi dan harga minyak mentah.

Mitsui E&S pun terpaksa menunda rilis rencana bisnis jangka menengahnya selama tiga tahun hingga tahun fiskal 2022, yang sebenarnya telah dijadwalkan keluar bersamaan dengan pendapatan tahun fiskal 2019 kemarin. “Ini adalah masa perubahan besar, dan kita tidak bisa hanya berjongkok dan mengendarainya,” pungkas Oka.

Loading...