Provider Siap Hadirkan Jaringan 5G Meski Pemerintah Enggan Buru-Buru

Jaringan 5G - satelindo.co.idJaringan 5G - satelindo.co.id

JAKARTA – Sejumlah provider dan telekomunikasi, termasuk XL Axiata, Huawei, Ericsson, dan Nokia, telah berancang-ancang untuk mulai mengembangkan 5G di pasar Indonesia. Sayangnya, saat perlombaan tersebut mulai ‘memanas’, justru mengatakan tidak terburu-buru dalam menyediakan akses yang lebih cepat di dalam negeri.

Diberitakan Nikkei, Yessie Yosetya selalu direktur independen XL Axiata, baru-baru ini mengutarakan bahwa pihaknya terus mempersiapkan diri untuk mengadopsi teknologi 5G dengan sangat serius. Operator seluler terbesar kedua di Indonesia berdasarkan jumlah itu bukan satu-satunya pemain. Ditarik oleh dinamika startup teknologi di Indonesia, raksasa seperti Huawei, Ericsson, dan Nokia juga turut menyemarakkan persaingan ini.

Namun, bagian aneh dari demam ini adalah kebijakan pemerintah pada teknologi ultra-cepat. Pejabat Kementerian Komunikasi baru-baru ini mengatakan bahwa mereka ‘tidak terburu-buru’ untuk meluncurkan 5G, meskipun tujuan Presiden Indonesia, Joko Widodo, adalah menciptakan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menuturkan bahwa kurangnya spektrum frekuensi yang tersedia untuk penggunaan 5G akan menghambat adopsi. Kementerian masih mempertimbangkan untuk menggunakan pita 3,5 GHz, yang akan tersedia untuk 5G pada tahun 2024. Sebelumnya, ia berucap bahwa rata-rata tidak mungkin membayar biaya tinggi untuk kecepatan lebih cepat dan menyarankan penyedia layanan 5G menargetkan pelanggan korporat.

Mengingat ketidakpastian komitmen pemerintah terhadap teknologi baru, perkiraan kapan layanan 5G akan sangat bervariasi, mulai dari dua tahun hingga lima tahun ke depan. Meski demikian, perlombaan antar perusahaan untuk menggelar layanan komersial sudah mulai memanas. Telkomsel, operator seluler terbesar di Indonesia, baru-baru ini menandatangani kontrak dengan Ericsson untuk ‘peningkatan jaringan inti utama untuk persiapan 5G’. Operator besar lainnya, Indosat Ooredoo,, sudah mengadakan uji coba dengan Ericsson pada November tahun kemarin.

XL Axiata, unit Grup Axiata Malaysia, mengatakan akan terus memperluas infrastruktur serat nasional sehingga dapat mendukung layanan 5G, yang membutuhkan tingkat bandwidth yang lebih tinggi untuk memproses transfer data yang lebih cepat. Pada acara di bulan Agustus 2019, mereka memamerkan tidak hanya panggilan telepon holografik, tetapi juga game berbasis cloud menggunakan teknologi yang disediakan oleh Ericsson.

Sementara, Nokia optimistis bahwa berbagai ambisi digital Jakarta akan memacu pengeluaran untuk 5G dan infrastruktur teknologi lainnya. Menurut Srinivas Bhattiprolu, kepala konsultan solusi software Nokia untuk Asia-Pasifik dan Jepang, Indonesia adalah salah satu area fokus utama perusahaan. “Dengan fokus pada Industri 4.0 dan inisiatif digital yang berani setelah 2020, Indonesia mungkin menjadi pemboros teratas (secara regional) dalam hal pengeluaran untuk inisiatif IT,” katanya.

Bhattiprolu merujuk pada inisiatif ‘Making Indonesia 4.0’ dari Kementerian Perindustrian yang diluncurkan pada April tahun lalu untuk meningkatkan sektor manufaktur melalui digitalisasi. Presiden Joko Widodo mengatakan inisiatif ini akan membantu Indonesia menembus daftar 10 besar ekonomi global pada 2030, dari posisi ke-16 saat ini. Jokowi sebelumnya sudah menetapkan tujuan mengubah Indonesia menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020.

Tidak hanya dari Eropa, penyedia peralatan asal juga mengalihkan perhatian mereka ke Indonesia. Telkomsel mengumumkan uji coba 5G dengan Huawei selama Asian Games 2018 di Jakarta, dan mengumumkan kemitraan strategis terpisah untuk pengembangan 5G dengan berbasis Huawei. Sementara, Tri, anak perusahaan konglomerat Hong Kong, CK Hutchison Holdings, mengadakan uji coba hologram 5G yang didukung oleh peralatan dari Huawei, serta Nokia dan Qualcomm.

Saingan Huawei, ZTE, mengatakan pada bulan Agustus bahwa pihaknya telah bermitra dengan Smartfren, anak perusahaan dari konglomerat Indonesia, Sinarmas Group, untuk menunjukkan aplikasi 5G dalam industri manufaktur. ZTE menggambarkan kemitraan tersebut sebagai kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi Indonesia. Pada bulan Juni, ZTE menandatangani perjanjian kerjasama dengan Telkom yang menunjukkan ‘komitmen kedua perusahaan untuk membangun jaringan 5G dan mengeksplorasi bidang 5G baru di Indonesia’.

Beberapa perusahaan Indonesia, seperti XL Axiata, memang lebih suka bermitra dengan banyak vendor untuk peralatan 5G daripada hanya bergantung pada satu mitra. Kecenderungan ini, bersama dengan penerimaan nyata pemerintah terhadap para pemain China, berarti ada kemungkinan ruang bagi perusahaan-perusahaan itu untuk ikut terlibat. “Segala risiko yang terkait dengan bermitra dengan vendor China dalam hal sanksi masih dapat dikelola,” ujar Yosetya.

Yosetya menambahkan, vendor sendiri lebih peduli tentang kurangnya urgensi pemerintah perihal mengadopsi teknologi 5G. Ericsson menawarkan solusi perangkat lunak berbagi spektrum yang dapat memungkinkan layanan 5G menggunakan pita yang ada, sementara Nokia mengatakan bahwa mereka memiliki solusi untuk pita tinggi, menengah, dan rendah.

Huawei, sementara itu, mendorong perusahaan telekomunikasi Indonesia untuk memasuki bisnis konsumen 5G, seperti aplikasi augmented reality dan virtual reality. Mohamed Madkour, wakil presiden untuk pasar dan solusi jaringan nirkabel dan cloud core global di Huawei Technologies, mengatakan bahwa mitra telekomunikasi Huawei yang ada di Indonesia akan terus menjadi mitra untuk layanan 5G.

Loading...