Proses Pembuatan Rumit, Harga Kostum Barongsai Bisa Sampai Jutaan Rupiah

Harga Kostum Barongsai

Mendekati perayaan Imlek biasanya kostum-kostum barongsai akan mulai diburu oleh yang merayakannya. Kostum berbentuk mirip naga dengan mata yang bisa berkedip ini memang tergolong unik. Pasalnya barongsai biasanya dimainkan oleh beberapa orang yang menari meliuk-liuk dengan sangat akrobatik. Yang lebih menarik, kostum barongsai yang warnanya mencolok tersebut ternyata bisa dengan yang cukup mahal.

Sebagai , harga kostum barongsai mini untuk anak-anak biasanya dijual sekitar Rp 69 ribuan, sedangkan kostum barongsai anak-anak yang bentuknya menyerupai aslinya bisa dijual dengan harga lebih dari Rp 1 juta. Sementara itu, kostum barongsai untuk dewasa harganya mencapai Rp 7 juta, sudah termasuk dengan 1 topeng kepala barongsai, 2 celana barongsai, dan 2 pasang sepatu barongsai.

Lain lagi dengan salah seorang pengrajin di Pakisaji, Malang bernama Yudi Irawanto. Kecintaannya terhadap budaya membuatnya tergerak untuk membuat alat-alat kesenian secara otodidak mulai dari kepala bantengan, kepala macan, leang-leong (naga), hingga barongsai. “Sejak usia 15 tahun saya sudah mulai tertarik membuat ,” ungkap Yudi, seperti dilansir Radar Malang.

Walaupun terlihat sederhana, ternyata kostum-kostum tersebut cukup rumit. Misalnya untuk membuat kepala macan, Yudi harus membuat kerangka dari bahan kawat terlebih dahulu. “Ada lima ukuran kawat, mulai dari yang paling kecil dan empat ukuran di atasnya,” jelasnya. Setelah kerangka jadi, barulah dibalut dengan kertas semen dan direkatkan dengan lem khusus. Bagian akhir dilakukan penambahan kain jenis beludru pada bagian luar kepala macan dan spons di bagian dalam supaya pemakainya tetap merasa nyaman.

Uniknya, meskipun pembuatannya cukup rumit, ternyata harga banderol kostum tersebut cukup terjangkau, hanya Rp 500 ribu saja. Yudi menjadikan pekerjaan membuat kostum ini sebagai sampingan saja, bukan bisnis utama. “Karena tidak setiap waktu ada . Kebanyakan yang pesan dari Malang Raya. Beberapa waktu lalu dari Kalimantan juga memesan kerajinan yang saya buat,” ucapnya.

Yudi yang berprofesi sebagai pekerja bangunan ini mengaku mempelajari seni tersebut secara otodidak karena dulunya sering melihat ayahnya membuat kerajinan. Ia sengaja membuat alat-alat seni tersebut demi memperkenalkan budaya pada generasi muda. Bahkan kabarnya jika sang pemesan tidak memiliki banyak uang, Yudi bersedia dibayar secara sukarela.

Share this post

PinIt
Loading...
scroll to top