Pola Migrasi Berubah, Banyak Migran Berbondong-Bondong Cari Peluang Kerja di Asia

Buruh Tiongkok - www.tribunnews.com

masih merupakan utama yang menjadi tujuan imigrasi sejumlah penduduk dari berbagai di . Berdasarkan PBB, sekitar 258 juta orang tinggal di luar kelahirannya pada tahun 2017, naik 50% dari tahun 2000. Selain , lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan India juga menjadi tujuan imigran dari seluruh dunia.

Belakangan ini destinasi imigran justru mengalami pola yang sedikit berbeda. Negara-negara di , termasuk Timur Tengah menjadi rumah bagi 80 juta imigran, atau sekitar 30% dari jumlah keseluruhan. Pada 2015 telah melampaui sebagai pusat internasional terbesar.

Menurut PBB, migran adalah orang yang tinggal di negara atau wilayah selain negara kelahirannya. Mereka termasuk pengungsi, orang-orang yang ekonominya tidak stabil, mahasiswa asing, dan anggota keluarga dari orang yang bekerja di luar negeri. Namun kelompok ini tidak termasuk turis atau individu yang tinggal di luar negeri selama beberapa bulan.

AS diketahui telah kedatangan lebih sedikit migran selama beberapa tahun terakhir. Jika pada 1990-an AS menerima 11,6 juta migran (60% dari total di seluruh dunia), tahun 2000-an jumlah tersebut turun ke angka 9,4 juta dan menjadi 5,6 juta selama satu dekade ini. Sebaliknya, negara-negara Asia menarik 16,7 juta migran tahun 2000 dan 13,7 juta pada dekade ini, sangat jauh dari jumlah migran tahun 1990-an yang hanya lebih dari 1 juta orang.

di Asia telah menjadi tren dengan 63 juta pendatang pada tahun 2017. Sebaliknya, rasio migran yang lahir di Asia namun hidup di Eropa justru turun dari 24% menjadi 19%. “Banyak orang pernah bermigrasi ke negara-negara berbahasa Inggris di Eropa dengan tingkat pendapatan yang tinggi. Tetapi kesempatan kerja di wilayah (Asia) terdekat menyebar karena perkembangan ekonomi negara berkembang,” ujar Ryutaro Kono, Kepala Ekonom di BNP Paribas Securities Jepang, seperti dilansir Nikkei.

Tak hanya faktor ekonomi atau pekerjaan saja, belum lama ini laporan bertajuk Groundswell: Preparing for Internal Climate Migration menjelaskan bahwa perubahan iklim di sejumlah lokasi di Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara, dan Amerika Latin diprediksi akan memicu terjadinya migrasi besar-besaran dari 143 juta penduduk di wilayah tersebut. Sejumlah wilayah yang akan diserbu oleh migrasi besar-besaran ini kemungkinan adalah kota-kota di dataran rendah, pesisir, dan daerah lain yang mempunyai sumber air dan pertanian kapasitas tinggi.

Di sisi lain, perekonomian Asia diperkirakan terus berkembang karena dipicu oleh ketersediaan pekerja migran. Menurut Asian Development Bank, jika ekonomi China yang stabil terus berlanjut, maka Asia akan menghasilkan 50% dari produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2050.

Loading...